Almost a year right? I can’t see you and hear your voice on a call. You know I really miss you right now. What are you doing now? Are you still watching on me? Have you already met God and sat beside Him? I hope so… I always pray someday we’ll get together again.

Dad, I wanna go home, meet mom and all brothers and sister, but you know I still hard just to tell you hmm…I don’t have enough saving this month. Hasil gambar untuk Icon Malu But I already have planned it since two months ago, I think I should tell you this. May 15, I want to see your tomb. It’s too hard to move on from you… Everybody said time can erase the lose and pain, but a year is too fast for me. I know in your life we always in a different point of view. But it’s better than nothing, I realize…

I always got mad when you were still drinking so much and didn’t give attention on us. I’m glad now you aren’t able to drink alot again, except God give it to you  Hasil gambar untuk Icon tertawa

Ahhh, I miss you…. There’s a song tells a child who miss his father and want him to come to the child’s dream. I want you to come to my dream too, since you’re gone you only came once to my dream. Hmm it looks you were a little bit busy out there hehehe..

Good night Dad… I’m sorry for every Good night I can’t speak to… And lots of thing I can’t give to you… Don’t be sad, just let me a night with this tears. I promise I’ll be strong day by day…

I miss you.

 

With love

Your youngest daughter

 

Iklan

Hi Dad, How are you there?

Diposkan pada Travel

Konsep Little Tokyo Ennichisai 2015, Blok M, Jakarta Selatan

Langit tampak biru dan cuaca di Minggu pagi awal Mei (2015) kemarin sangatlah menyenangkan. Sejauh mata memandang, bangunan – bangunan yang ada disini, Blok M- Jakarta, terlihat unik dengan desain pertokoan yang dibiarkan menua, mungkin salah satu alasannya untuk menjaga nilai historis atau bisa juga keartistikannya.

Masih terlalu pagi kami tiba disini, belum banyak pengunjung, hanya para pemilik booth yang tampak sibuk menjejali aneka barang dagangan untuk di display. Tenda – tenda putih dengan ujungnya yang runcing tertata rapi disisi jalan kecil. Lampion bertuliskan aksara Jepang tergantung di atasku sementara jalanan tengah lengang. Suasana ini akan berbanding terbalik 360 derajat di siang nanti. Bahkan saking padatnya, kamu harus siap berdesak – desakan menyusuri jalanan.

Salah satu sudut jalan tempat diselenggarakannya Pagelaran Budaya Ennichisai 2015 di pagi hari
Salah satu sudut jalan tempat diselenggarakannya Pagelaran Budaya Ennichisai 2015 di pagi hari

Kalaupun sebelumnya aku belum pernah ke Negara Jepang aslinya nih, namun berada di sudut kota ini dengan dekorasi dibuat se-Jepang mungkin sudah membuatku seakan menginjakkan kaki di negara nun jauh disana tempat Naruto berada…

Sementara di sudut lainnya
Sementara di sudut lainnya
Spot yang paling aku suka nih...
Spot yang paling aku suka nih…

Ennichisai adalah satu event festival budaya, seni dan kuliner Jepang yang diadakan setahun sekali dengan mengangkat tema berbeda. Di tahun ini temanya adalah Always Smile, karena Senyum dapat Memperkuat Persahabatan. Diselenggarakan terhitung hanya 2 hari saja dari tanggal 09 Mei 2015 – 10 Mei 2015, festival ini menyedot banyak perhatian kaum remaja sampai dewasa. Bukan hanya pecinta komik atau anime saja, aku (yang dulunya ‘addicted’ juga) atau mungkin beberapa pengunjung lainnya banyak yang berkunjung untuk memuaskan rasa penasarannya dengan Budaya Jepang apalagi dengan kulinernya.

Berada disini kamu akan melihat begitu banyak pilihan makanan khas Jepang yang dapat dicoba. Ada banyak para Cosplayer juga yang ramah – ramah dan bisa diajak Selfie. Belum lagi miniatur – miniatur karakter anime yang walaupun kecil harganya mahal sekali (ratusan ribu saudara!), pernak – pernik lucu sampai belajar membuat origami. Jadi persiapkan dana juga bila ingin kemari ya 😉 daripada cuma gigit jari tidak bisa nyobain kulinernya 😀

Proses Pembuatan Takoyaki
Proses Pembuatan Takoyaki

Takoyaki

Okonomiyaki
Okonomiyaki “Bakwan” ala Jepang
Ringo Ame, permen dari bua apel segar dilapisi karamel yang mengeras. Makannya butuh kesabaran :)
Ringo Ame, permen dari buah apel segar dilapisi karamel yang mengeras. Makannya butuh kesabaran 🙂

DSC_5826[1]
Uniqely Sketch Books & Notes
DSC_5835

Boneka Kayu Jepang
Boneka Kayu Jepang

DSC_5833

DSC_5836

DSC_5834

DSC_5803

Memasuki siang hari, acara yang ditunggu – tunggu nih yaitu Mikoshi (Kuil Portable). Infonya, tandu yang dihias dengan megah seperti sebuah yagura, dipercaya dinaiki oleh objek pemujaan atau roh dari kuil Shinto di Jepang. Pada penyelenggaraan matsuri, mikoshi diusung beramai-ramai di pundak oleh para penganut, dan dibawa berpawai keliling kota.

DSC_5852

DSC_5850

Jika kamu tidak sempat berkunjung dan penasaran dengan suasana saat Mikoshi diarak-arak di Festival Ennichisai kamu bisa lihat disini. Untuk kualitas videonya, yah sedikit hancur sih hehehe shy-whistler

Diposkan pada Uncategorized

Drama Cinta Burung – Burung Manyar by Y.B. Mangunwijaya

“Sebab memanglah kita dapat sedih dan marah membongkar segala yang kita anggap gagal, namun semogalah kita memiliki keberanian untuk memulai lagi dengan penuh harapan” (Larasati Janakatamsi “Atik”;325)

Setelah sekian lama, kini saya berhadapan lagi dengan sosok cerdas Romo Mangun dalam bukunya Burung – burung Manyar. Pertemuan pertamaku adalah saat  masih duduk di bangku SMA. Saat itu membaca novel – novel sastra Perpustakaan sekolah seperti sebuah candu saja, salah satunya Burung-burung Manyar ini. Namun ada perbedaan yang cukup besar dari cara pandang seorang anak SMA dengan saya yang sekarang. Dulu ya, baca buku hanya fokus ke kisah Roman nya saja, antara Teto dan Atik (yang tidak seindah harapanku). Namun sekarang, dibalik itu ada begitu banyak pelajaran yang ingin disampaikan penulis. let me show you!

Burung - burung Manyar, cetakan ke II
Burung – burung Manyar, cetakan ke II

Larasati atau Atik tidak suka dengan anak laki – laki itu, ya ia yang mengusik burung – burung kecil yang sedari tadi diamatinya. Anak laki – laki berusia 12 tahun itu memanjat pohon dan membidikkan pelantingnya ke arah burung srigunting. Ia cemberut, benci ia pada Teto, sipemilik nama itu.

Atik kenal dengan anak itu, ia anak dari Om Bas (Brajabasuki) sang Loitenant Eerste Klas (Letnan Kelas Satu) KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) dengan Ibunya, seorang Belanda totok yang ditugaskan di Magelang. Anak jahat yang menekan hidungnya seperti tombol kala ia diperkenalkan pertama kalinya beberapa tahun lalu. Dia juga nakal karena ia suka memelanting burung – burung kecil kesukaan Atik, suka meloncat dan berenang di selokan besar, memanjat, semua ia bisa hanya Atik tidak menyukainya.  Ia berlari ke dalam kamar dan melanjutkan membaca buku yang diberikan ayahnya kepadanya, umurnya masih 10 tahun kala itu.

Berbeda dengan Teto yang sangat menikmati perannya sebagai anak kolong kampung, ia menghabiskan banyak waktunya bersama anak – anak kopral, sersan dan serdadu kelas satu. Tidak peduli ia pada pandangan maminya yang sangat konservatif bahwa tidak selayaknya ia berbaur dengan kalangan ‘bawah’ (Bagi maminya, anak – anak dari orangtua yang posisinya tidak setara dengan suaminya hanya kelas bawah). Sementara ayahnya justru menganggap pergaulan dengan anak – anak kelas bawah itu suatu saat pasti akan menguntungkan Teto.

Hingga sampailah masa kejatuhan Kolonial Belanda, Sang Letnan Kelas Satu ditangkap Kempetai (tentara Militer Jepang yang ditempatkan di daerah jajahan). Teto menyadari posisinya kini berubah. Dia harus mampu menggantikan posisi ayahnya, melindungi maminya. Namun, siapa sangka maminya justru meninggalkannya, menjumpai Kempetai yang menangkap ayahnya  untuk menjadi gundik. Hancur hati Teto, sia – sia semua kebanggaannya pada maminya, satu-satunya keluarga yang ia miliki. Ibu yang melahirkannya justru menjadi gundik musuhnya.

“Sebab memang berhari – hari jiwaku terobek – robek. Apakah aku harus bangga dan memuji Mami ataukah aku harus membunuhnya?” — Teto;52

Dendamnya bertambah seiring waktu, dia benci semua yang berbau Jepang. Dia juga benci bangsa ini, bangsa yang membongkok – bongkok kepada bangsa Jepang dan berteriak di alun – alun meneriakkan “Inggris kita linggis! Amerika kita setrika! Dai Nippon, banzai!” Bahkan ditengah gencar – gencarnya bangsa merebut kemerdekaan Indonesia — berdiplomasi dengan penjajah Jepang juga melawan Hindia Belanda, dia lebih memilih tetap memihak Kerajaan Hindia Belanda. Ia bergabung dengan NICA dibawah bimbingan Mayoor Verbruggen, Perwira yang ditolak cintanya oleh Marice, ya maminya sendiri. Tidak habis fikir dia kenapa maminya lebih memilih ayahnya, Belanda hitam yang Jowo dengan tampang bloon dibanding si Perwira tampan dan cerdas dalam menghadapi Kempetai Jepang. Ah, apalah yang ia tahu soal wanita, ia bahkan belum bisa memahami keputusan maminya yang bersedia menjadi lonte Kempetai Jepang.

“Tetapi wanita memang rahasia besar. Lelaki hanya bungkusan rahasia itu, bahkan biasanya bungkusan yang kaku dan lekas robek” — Teto;76

Dan  ia pun dipertemukan kembali dengan takdirnya — Atik, wanita yang ia anggap sebagai adik juga kekasih. Seperti dendamnya sebesar itu jugalah cintanya pada Atik. Teto sadar dendam di hatinya akan merusak dan menggerogoti dirinya sendiri. Tidak ada seorangpun yang bahagia dengan membawa dendam bahkan jika itu berbalas sekalipun. Cintanya pada Atik, dia tahu akan berbalas tapi tidak akan membuahkan kebahagiaan. Atik dibesarkan di keluarga yang mencintai bangsanya, tidak demikian dengan Teto yang tidak pernah merasa menjadi bagian dari bangsa ini. Atik dengan cita – citanya ingin turut serta merebut kemerdekaan, terbukti dengan peranannya sebagai juru ketik istana — berbanding terbalik dengan Teto, seorang tentara musuh yang didalam darahnya sudah mengalir  darah NICA. Dua karakter, ideologi dan tujuan hidup yang berbeda tidak bisa dipatahkan hanya dengan kesamaan rasa, Cinta.

“…aku tidak berfikir macam – macam selain ingin memiliki Atik. Kelak aku baru tahu bahwa memiliki saat itu hanya ingin memerkosa Atik agar dimasuki oleh duniaku, oleh gambaran hidupku. Tanpa bertanya apa dia mau atau tidak. Dan sesudah sadar, bahwa itu tidak mungkin, kudobraki duniaku, dan aku hanya bisa menangis. Atik jelas bukan adik. Ia praktis pengganti mamiku…” Teto;115

“Mengapa ia memilih Teto? Karena ingin menyelamatkannya dari suatu kehancuran yang sudah  menampakkan diri dalam seragam serdadu KNIL sekian tahun lalu di jalan Kramat itu? Apakah rasa kasihan cukup untuk dijadikan sendi hidup perkawinan?” Atik;219

Atik sudah lama memikirkannya. Kesalahan Teto hanyalah menempatkan secara langsung soal keluarga dan pribadi di bawah sepatu lars politik dan militer. Kesalahan Teto hanyalah, ia lupa bahwa yang disebut penguasa Jepang atau pihak Belanda atau bangsa Indonesia dan sebagainya itu baru istilah gagasan abstraksi yang tidak bisa mewakili kesalahan personal. Yang menodai maminya bukan bangsa Jepang, tetapi Ono atau Harashima. Teto tetap Teto, dan bukan “pihak KNIL”. Dia hanya seorang anak Mursal (hilang atau minggat dari rumah). DSC_8214

Bahkan ketika Atik sudah menjadi Nyonya Janakatamsi, menjabat Kepala Direktorat Pelestarian Alam dan memiliki dua orang anak, cintanya masih untuk Teto. Ia selalu menunggu kepulangannya. Dan Atik tidak menduga ia akan melihat sosok yang dia rindukan itu menghadiri sidang mempertahankan tesisnya pagi itu. Setelah sekian tahun tidak bertemu tak sekalipun ia melupakan sosok itu. Ia yang sudah lama tidak menginjakkan kaki di negeri ini.

Teto memandang sosok Atik memasuki aula didampingi suaminya, usianya juga sudah lebih dari satu tahun dari 40. Dia masih memiliki kecantikan yang khas seperti kunang – kunang, tidak glamour seperti perempuan yang menghadiri resepsi. Zaman sudah berubah, usia bertambah dan kondisi sudah tidak sama lagi. Jika saja ia bisa kembali kesaat dimana ia salah dalam mengambil keputusan itu dan memperbaikinya, bisa jadi Tetolah yang berada disisi Atik saat ini. Hush, sudahlah…

Memang benar yang Atik sampaikan dalam Tesisnya mengenai Burung Manyar. Ia sempat mendengarkan sampai akhirnya ia putuskan meninggalkan aula sebelum acara usai karena ia belum siap menghadapi Atik dan suaminya. Toh, sebenarnya ia tidak diundang, ia hanya ingin melihat Atik dan itu sudah tercapai.

Burung manyar jantan sangatlah ahli dan berseni membangun sarang. Saat musim kawin tiba, mereka akan berlomba – lomba membangun sarang paling indah. Sementara burung manyar betina hanya akan mempertimbangkan dan memilih yang berkenan di hatinya. Bagi yang tidak dipilih, sungguh menyedihkan hati. Tapi sang pejantan tidak akan frustasi, dia akan kembali mengumpulkan alang – alang, daun – daun tebu dan sekali lagi mulai membangun sarang yang baru, dengan penuh harapan semoga kali ini berhasil dianugerahi hati yang seperti seorang putri Keraton”. 

Atik menegaskan bahwa manusia dapat belajar dari Burung Manyar. Citra dan jati diri yang belajar dari kegagalan dan bangkit kembali. Tapi Teto bukanlah Burung Manyar, itulah kesulitannya.

Sentilan, demikian kurasa yang ingin disampaikan Romo Mangun. Ia dengan cadasnya menggambarkan nilai – nilai humanisme dengan bahasa yang mengalir liar dan berat (kadang saya harus buka KBI dulu baru ngertos) shy-whistlerTak jarang kamu juga akan menemukan  dialog – dialog dari sudut pandang seorang asing memandang bangsa ini, seperti percakapan Teto dengan si Tuan Ambasador atau antara Teto dengan seorang Sersan mayor PM misalnya.

“…. tetapi ini bangsa kuli. Harus dijadikan kuli. Coba mereka kau injak, barulah mereka hebat bekerja, dan keluarlah daya akal mereka yang mengagumkan. Tetapi bila diberi hati dan dimanja, sudahlah, kembalilah mereka menjadi anak kecil yang merengek – rengek permintaan bukan – bukan tidak masuk akal” Tuan Ambasador;253

“Dia berkata bahwa penduduk disini kejam sekali. Wajah serba senyum dan sopan santunnya luwes, tetapi terhadap sesama bangsa, keji. Sebagai asisten residen ia setiap hari keliling untuk mendengarkan keluhan rakyat dan membela mereka terhadap kesewenang – wenangan raja atau bupati mereka” Sersan mayor PM;199

Sedikit ditamparlah, tapi dari novel ini kita bisa berkaca bahwa kekecewaan, kegagalan dan kesalahan hanyalah proses up and downnya hidup. Tidak ada salahnya belajar dari mereka. Jika tidak, malulah sama burung…

 

Diposkan pada Story

Aku Rindu

Hah, rinduku menumpuk, hasratku memelukmu tak sampai, aku ingin menciummu, menangis dipelukmu, tidur disampingmu…

Sekali saja katakan kau rindu padaku juga. Sekali saja berceritalah padaku. Telepon aku, tanyakan kabarku. “Bagaimana harimu nak?”

Sesakit inikah Kasih dalam diam?

Dengarlah ceritaku, katakanlah aku akan baik-baik saja dan kau juga baik-baik saja disana. Katakanlah kau ingin melihatku pulang, katakanlah bahwa kau rindu padaku.

Tidakkah kau rindu dengan suapan nasi dari tanganku?
Tidakkah kau rindu dengan pijatan tangan amatirku dikakimu?
Katakanlah.. Dan aku akan pulang, menemuimu, hanya untukmu.

Sungguh aku merindumu,
jika aku tidak bisa menyentuh wajahmu setidaknya biarlah aku mendengar suaramu. Hingga hilanglah sesak dihati ini dan nyatalah kasih ini berbalas…

Diposkan pada Story

Happy Birthday, Dear You My Strength

I count again

Time? No one knows how long our rest of time
Even Her time
Don’t ever try to ask me to release, because all of her time not on me or you but Him

People always tell me, try to release…
But my question is what I supposed to release?

They say, “What is she waiting for?”
“Ooh, this is more than just enough for her to fight”
“Release, please release her…”. Said them, not once, twice, countless…
Behind me or right on my face

But unfortunately they don’t know who you are Mom
Your feet, has been walking through the day and night, rain and tears, thousands mile..
how can they say it is so thin and weak? With the same feet you carried me. They wrong yes, they wrong

Look at your hair, bushy and curly like me. There is no gray hair not like other woman in your age.

Your eyes, you have myopia because you loved to embroider.
They think useless wearing you eyeglasses.
For this I agree, because deep in your mind Mom, there is still me.
You don’t need to see me just remember me please…

Your hands, I laugh when they say you are too sick…
I remember your tightly hand was holding me that night when I slept next to you.
A sick person isn’t able to do that.

You are still the same Mom like I was in 6 and 20s.
Who was angry at me when I got caught bedwetting by you or lately home
I have no idea why they see you now so different
When I still see the same hope in your smile, a pray in your eyes and love in your spirit, all of it in a perfect package, never ever change,
You are Mom.

You have taught me to love more like you, living with a strong heart and dignity.
From you too I’ve learnt only Love can make you stay

Happy Birthday Mom, please stay with us as long as you want…

 

From your youngest daughter

With huge love

DSC_0154

 

 

Diposkan pada Travel

Backpacker Berburu Kenyamanan di Bandung, Jawa Barat

Tema libur Lebaran kali ini memang sedikit berbeda dari perjalanan – perjalanan sebelumnya, dimana sebelumnya itu selalu identik dengan Perjalanan yang murah meriah dengan mengesampingkan kenyamanan (See my previously trip here). Nah, sementara kali ini biaya yang dikeluarkan justru terbilang lumayan besar untuk perjalanan ke Bandung yang hanya 1 hari 1 malam. Namun, worthiedlah dengan tujuannya, kenyamanan.

Sebelum membaca post ini lebih lanjut, penting saya sampaikan bahwa post kali ini ditujukan bagi pengunjung yang buta sama sekali dengan perjalanan ke Bandung. Lebih tepatnya tidak ada tujuan jelas, perencanaan dan sumber informasi yang akurat. Jadi mungkin agak sedikit melelahkan membacanya.

run7Hari Pertama : Jumat, 17 Juli 2015

Berangkat dari Terminal Cawang BKN, Jakarta Timur  menuju Kota Bandung menggunakan Primajasa (Executive) Rp.90.000/orang (10.00 – 13.00 wib) – Kamu bisa naik Busway ke terminal ini dan turun di halte Cawang BKN (Koridor 9)

DSC_6664[1]

Menunggu Detik-detik Keberangkatan
Menunggu Detik-detik Keberangkatan

Butuh waktu 3 jam untuk sampai di Terminal Lewi Panjang. Padahal umumnya jarak Jakarta – Bandung itu bisa ditempuh 2 jam saja, terang saja ini dikarenakan masih dalam suasana Mudik Lebaran. Terminal Lewi Panjang merupakan pemberhentian terakhir Bus Primajasa. Sampai disini nih, kami mulai bingung menentukan tujuan selanjutnya. Hingga diputuskan cari penginapan untuk malam itu terlebih dahulu. Apesnya, beberapa dari kami yang sebelumnya sudah pernah kemari juga lupa naik angkutan jurusan apa ke Dago. Kalau begini ceritanya jangan malu untuk bertanya ke orang yang tepat!

Seorang teteh penjaga warung di dekat terminal bilang, untuk ke Dago naik angkutan warna kuning arah ITC, turun lalu transit naik angkutan jurusan Kalapa – Dago (Angkutan Warna Hijau). Untuk perorang dikenakan Rp.5.000

Kebingungan terus berlanjut saat harus memilih tempat makan. At least dari hasil voting pilihan jatuh ke Mc.Donald, oh tadinya aku mengira akan makan di warung masakan khas Sunda. Tapi tak apalah yang penting perut terisi. Kemudian lanjut lagi diskusi alot menentukan lokasi penginapan, apakah dekat dengan kota atau daerah tujuan wisata nantinya (ini juga belum ditentukan loh!) — dan rental mobil.

Alih – alih dapat tarif lebih murah yang terjadi malah sebaliknya, justru memakan waktu untuk menghubungi penginapan di Bandung satu per satu. Ada kali 20an nomor kontak Hotel dan Rental Mobil yang kami hubungi. Itu pun masih juga dapat Hotel dan Rental mobil dengan harga ‘hari besar’ — yang masih bisa dinego jika direserve jauh – jauh hari. (Sepertinya memang sudah jadi penyakit kami untuk Touring tanpa perencanaan sebelumnya) shy-whistler

Tapi sisi positifnya kami jadi tahu berapa range harga penginapan di Hotel Bandung. Sedikit bocoran bahwa hampir semua hotel yang kami tanyakan mematok harga untuk Standard Room dengan Single Bed sebesar Rp.350.000 dan Rp.150.000 – Rp.200.000 untuk extra bed (kapasitas 3 orang dalam 1 room). Sedangkan untuk tarif rental mobil include Supir rata – rata dipatok Rp.600.000/12 jam (plus Bahan bakar Rp.150.000), dan ditengah – tengah musim libur panjang seperti ini kami termasuk beruntung mendapatkan mobil rental walau harganya yah seperti yang kusampaikan di awal sedikit lebih mahal. Hingga akhirnya kami putuskan untuk menginap di Hotel yang kurang lebih 20 menit jalan kaki jauhnya dari Mc.Donald di Perempatan Dago.

Jalan menuju Hotel, Jalan Tubagus VIII
Jalan menuju Hotel, Jalan Tubagus VIII
Scenery dari kamar 421
Scenery dari kamar 421

Malam hari kami habiskan di jalan Braga. Jika tidak mempunyai kendaraan sendiri, ada baiknya menggunakan Taxi saja menuju kesini. Karena jika dihitung – hitung dengan menggunakan angkutan umum perbedaannya hanya sedikit saja. Misalnya nih, saat kami berangkat ke Jalan Braga, karena berniat menghemat biaya (maklum, kami harus naik 2 taxi mengingat jumlah kami) — kami berjalan kaki kurang lebih 20 menit dengan kondisi jalan undak – undakan. Sungguh melelahkan! Sesampainya di jalan besar Dago, tambah Pe-er lagi mencari angkutan jurusan Jalan Braga, hingga akhirnya kami carter Angkutan Umum sebesar Rp.48.000 (normalnya kami harus transit terlebih dahulu oleh sebab itu setiap orang dipatok Rp.8.000, sekali jalan Rp.4.000). Berbeda dengan kepulangan kami yaitu naik taxi dengan argo, kami hanya dikenakan Rp.30.000/taxi. See, hanya berbeda RP.12.000 saja 😦

Berada di Jalan Braga seakan menginjakkan kaki di masa – masa kolonial. Yang istimewa yaitu disepanjang jalan terdapat bangunan – bangunan kuno sisa peninggalan jaman Belanda dulu ditambah dengan sejarahnya (see Sejarah Jalan Braga, Bandung). Dan sampai saat ini dirawat dan dipoles dengan tidak meninggalkan nilai sejarah dan desain bangunan Belanda tempoe doeloe. Jakarta juga memiliki Spot seperti ini yang tidak kalah bagusnya (Bandingkan dengan Kota Tua, Jakarta Kota)

Untuk makan malam kami menyambangi Hang Over, Bar & Cafe. Kalau ditanya soal harga masih mahalan makan di dekat kantorku  icon-cry-3Pilihan menu yang ditawarkan menu nasi – nasian seperti nasi ayam betutu, nasi goreng Hang Over, dll,— disini ada Indomie klasik loh, Snack, Roti bakar dan aneka minuman juga. Disamping itu, Cafe ini memiliki desain interior yang cukup menarik. Ada lampu gantung yang dihiasi botol – botol minuman, ada juga disediakan satu ruang yang tertutup dengan dua jendela — sisi kanan dan kiri, yah sepertinya semacam memberikan privasi kepada customer.

Lepas dari sana, langsung hunting foto serta beristirahat sejenak di bangku yang banyak dijumpai disepanjang jalan Braga. Rasanya begitu nyaman menikmati suasana malam Kota Bandung dengan sekaleng minuman soda dari Circle K. Ingin rasanya berlama – lama berada disini. Melihat bangunan – bangunan tua, jalanan yang bebas debu, hening dan menikmati malam dengan cuaca yang tidak akan kamu dapat di Jakarta.

run7Hari Kedua : Sabtu, 18 Juli 2015

Kawah Putih, Ciwidey – Danau Situpatenggang – Lembang – Home

Pagi di kota Bandung sangatlah dingin teman. Lepas mandi dan sarapan waktunya hunting foto. Hotel Lotus memiliki Gazebo ditengah taman yang terawat. Disisi kiri terdapat kolam ditumbuhi teratai yang menjadi ikon hotel tersebut. Tidak terlalu besar namun cukup nyaman untuk ditinggali. Hari kedua ini, kami akan mengunjungi Kawah Putih, Ciwedey, Bandung. Ampun dah, tenyata perjalanannya jauh sekali. Jam 9.00 wib start dari Hotel (sekalian Check Out) dan tiba di Kawah Putih pada pukul 13.00 wib (4 jam broohh!!)

20150718_080712

Memasuki kawasan Kawah Putih ada alternatif, yang pertama kamu bisa menaiki Bus Ontang – anting yang sudah difasilitasi dan membayar tiket bus atau menggunakan kendaraan pribadi dengan biaya yang tentunya lebih mahal dibanding menggunakan bus yang sudah disediakan. Akses yang kami pilih yaitu menggunakan Bus ontang-anting — rasanya seperti naik Harvest Time di Jungle Land.

Sesampainya di Kawah Putih, pengunjung akan selalu diingatkan untuk menghabiskan waktu tidak lebih dari 15 menit. Namun, jika bernafas sudah sesak, batuk – batuk dan mata pedih maka jangan menunggu 15 menit juga, langsung tinggalkan kawasan tersebut karena akan membahayakan tubuhmu sendiri. Ini merupakan efek menghirup belerang dengan bau yang sangat menyengat.

DSC_6738
Kawah Putih, Ciwidey, Bandung

DSC_6767

DSC_6765

Narsis dulu ya!!
Narsis dulu ya!!
Poe yang tidak pernah ketinggalan
Pose yang tidak pernah ketinggalan

DSC_6751

Jika masih ingin berlama – lama menikmati indahnya Kawah Putih ini, ada satu Spot cukup aman dimana kamu dapat melihat lebih luas area Kawah Putih tanpa harus menghirup bau belerang yang superr!!– yaitu berada di bukit, tempat yang disediakan bagi para lansia. Ada sebuah Gazebo dimana kamu bisa duduk santai sambil melihat kerumunan orang dibawah. (See Kawah Putih Ciwidey)

Vegetasi Kawah Putih
Vegetasi Kawah Putih
Scenery dari atas bukit yang disediakan bagi para lansia
Scenery dari atas bukit yang disediakan bagi para lansia

DSC_6783

DSC_6782

Jangan lewatkan oleh - oleh Strawberry manis dari Ciwidey ini
Jangan lewatkan oleh – oleh Strawberry manis dari Ciwidey ini

Next, Situpatenggang menjadi tujuan kedua kami. Danau ini berada Kecamatan Rancabali, tidak jauh dari Kawah Putih, kurang lebih 30 menit perjalanan. Sepanjang perjalan kemari pengunjung akan disuguhkan dengan scenery perkebunan teh, so beatifull!! Ternyata dibalik namanya ada kisah yang sangat romantis sehingga sampai sekarang mitosnya jika ada yang berpasangan mendatangi Batu Cinta dan mengelilingi Pulau Asmara yang terdapat ditengah danau tersebut maka hubungannya akan langgeng. Mudah – mudahan saja teman kami yang datang kemari bersama kekasihnya akan selalu langgeng walau tidak sempat menyeberang dan melihat Batu Cinta tersebut 🙂  Cerita Situpatenggang

Situpatenggang
Situpatenggang

DSC_6816[1]
Boat yang akan membawamu ke Batu Cinta dan Pulau Asmara
Pukul 16.00 wib kami beranjak dan bergegas menuju Lembang. Parahnya, kami baru tiba di Restauran Sindang Reret, Lembang pada pukul 20.30 wib. Bukan hanya Jakarta saja yang macet, Bandung di kala libur besar seperti sekarang ini juga macet parah. Dan terlepas dari itu, menikmati sajian Sop Buntut, Sop Bandung, Gurame Goreng Cabe, Gurame Bakar Kecap, Oseng Kangkung dan dilengkapi Sambal Dadak adalah closing terindah dari perjalanan 1 hari 1 malam kami.

DSC_6866
Berkutat dengan bill-bill

Sebelum kututup cerita ini, mungkin ada yang bertanya – tanya biaya perjalanan selama disana. Berikut beberapa yang harus kamu tahu sebelum bepergian ke Objek wisata Bandung based on pengeluaran kami.

You have to know :

Bus Jakarta – Bandung : Bus Primajasa Rp.90.000/orang (executive)

Angkutan umum : Rp.4.000 – Rp.5.000/orang

Penginapan : *Rp.525.000/kamar (bisa ber-empat dalam satu kamar). Fasilitas 2 bed room, TV dan kamar mandi (plus water heater)

Rental mobil : *Rp.700.000 (include jasa supir but exclude bahan bakar—Rp.150.000/14 jam, bisa lebih), Total Rp. 950.000/14 jam (ini sudah termasuk tip buat Bapaknya)

Hang Over Cafe : *Rp.191.500 untuk makan ber-enam (sesuai pesanan)

Masuk Kawah Putih : Rp.18.000/orang dan Rp.90.000/roda 4. Tambahan charge jika menggunakan Bus Ontang – anting Rp.18.000, Total Rp.306.000/6 0rang.

Masuk Danau Situpatenggang : Parkir kendaraan roda 4 Rp.11.500, Pengunjung Rp.13.000/kepala & PNBP Lokal (Pendapatan Nasional Bukan Pajak) Rp.7.500/kepala.Total untuk 7 orang Rp. 155.000. (untuk fasilitas toilet charge Rp.2.000)

Restauran Sindang Reret : *Rp384.450 untuk 6 0rang (sesuai dengan menu yang saya sebutkan sebelumnya)

Yah, dihitung-hitung perorang kena biaya kurang lebih Rp.800.000 🙂

Semoga bermanfaat!!!!

 

 

*Lotus Hotel, Jl.Tubagus Ismail VIII No.45B, Bandung, 40134. Telp: (022) 825 234 71. email: reservation@lotusbandung.com

*Bapak Denny #Rental Mobil Bandung dapat dihubungi di 0812 8902 7727

*Hang Over Cafe : Jl.Braga 47, Bandung, 40111. Telp : (022) 4260 491, visit › http://www.hangoverbandung.com

*Sindang Reret Hotel and Restaurant : Jl. Surapati No. 43, Bandung, 40133

Diposkan pada Catatan

#DIY Do It Your Self

I love to be busy, I mean busy with my self.. Rofl 😁

This sunday seems so boring, I found my besties sleep whole day and the others went out to Ancol with her family. Oke the choices were between sleep or going out. But I didn’t take both of them. Hahaha, it was caused the first one already made me headache (I woke up late this morning) and the second choice that wasn’t the wisely way for this condition (hmm, end of month).

Then I rolled my eyes, looking for something, hopely found some interesting thing in my room. There were 3 novels had not been read, a styrofoam box ex Durian pancake from Medan and also lot of not ironed clothes. Huft!!

Got an idea, I took the white styrofoam box and tried making it better than dumped. Buying two colorfull papers wrap, I covered all the surface by it and put a ribbon on the top (that was a ribbon from my friend’s pant).

After twenty minutes, a new look from styrofoam box changed. The result, maybe somehow I’ll use it by putting my panties inside in order to keep it tidy hahahaha

This is DIY :D
This is DIY 😀
Kotak Kado Istimewa
Kotak Kado Istimewa
Diposkan pada Travel

Visit Food & Hotel Indonesia 2015, Jakarta Internasional Expo (Ji-Expo), Kemayoran

Finally, di tengah – tengah jam kerja dan deadline minggu ini, bisa juga menyempatkan diri mengunjungi pameran sebesar dan sekelas Food & Hotel Indonesia 2015. Pameran yang ke-13 yang mengusung konsep Hotel Internasional, Catering Equipment, Food and Drink Exhibition, Display and Storage Exhibition, International Retail Technology and Equipment. Jadi sudah bisa dibayangkan ramainya pengunjung dan para exhibitor di gedung Jakarta Internasional Expo dari tanggal 15 – 18 April 2015.

Invitation
Invitation

Pameran ini diikuti oleh 13 perwakilan negara dari Australia, China, Iran, Italy, Korea,  Singapore, Afrika Selatan, Spanyol, Taiwan, Turkey, dan Amerika Serikat di Hall A1, A2, A3, B1, B2, C1, C2, dan Area Outdoor di tengah – tengah lapangan (Hall F).  Baca selengkapnya disini juga disini. Tiap Hall dibagi berdasarkan konsep yang diusung, misalnya nih, Hall A1 dan A2 memamerkan jajaran Equipment yang sudah banyak digunakan di kelas – kelas Retail dan Hotel Indonesia. Yang paling menarik perhatian adalah mesin – mesin kopi yang kerap kali berhubungan dengan Jobdeskku. Bagi yang doyan nongkrong di J-co, Starbucks, Sevel, Es Teller, FamilyMart 🙂 dan sejenisnya pasti sudah sering melihat equipment yang dimaksud. Itu loh… bukan hanya mesin kopi, Ice beverage, Ice machine, Chiller, fryer, Freezer dan masih banyak lagi—disini kamu bisa lihat Up datenya serta kenalan langsung dengan para Marketing Presentationnya, yah hitung – hitung menambah relasi.

Masuk Hall A3 dan D1, disini nih yang paling aku suka. Ada banyak sample makanan diberikan ke pengunjung, hehehe… :p  Yup, di hall ini para importir makanan berlomba merebut perhatian para pengunjung. Ada instant food dari Singapore, Teh atau Fruit and Vegetable dari Taiwan, Beef Product dari Brazil, Organic Noodles dari Jepang dll.

Variant Product
Variant Product

Food Variant_JiExpo_Wee

Sedangkan di Hall D2 lebih kepada Hospitality, Design and Furniture, Networks juga Resources. Produk – produk yang disajikan seperti tempat tidur yang sangat Cozy, furniture daur ulang (vase, tray, candle holder, picture frame, coffee table, storage basket of natrural fiber dan placemat).

Storage Basket from Natural Fiber
Storage Basket from Natural Fiber

DSC_5656DSC_5638

Eh, ada Cinderalla yang dibalut dengan busana yang terbuat dari Butter Cream. Bukan hanya itu saja, kereta kencana dari labu juga kudanya dilapisi Butter Cream. Tampak Chef-nya sedang mencoba menyelesaikan hiasan kereta labunya.

Cinderalla Butter Cream
Cinderalla Butter Cream

Ceramic and Lamp_WeeDSC_5636

Dan terakhir Hall F, C dan B suasananya sedikit berbeda, tidak seramai di Hall sebelumnya namun masih tetap menyajikan berbagai equipment, mesin – mesin produk makanan dan makanan juga (Korean Food ada di Hall B :)). Tapi saat memasuki Hall F, ada satu sudut display yang ditata sangat apik dan cantik 🙂

DSC_5658

Membawa Pulang Olive Oil Virgin seharga Rp.19.000
Membawa Pulang Olive Oil Virgin seharga Rp.19.000

Tiga jam rasanya tidak cukup memutari semua hall. Jadi lihat dahulu Map atau panduannya, tentukan tujuan dan jalannn. Kamu juga akan banyak menjumpai bule yang seliweran disana – sini, terang saja karena taraf Internasional ya… :D. Mereka cukup ramah – ramah menurutku (namanya memperkenalkan produk mereka) dan pastinya bisa menikmati produk – produk yang dijual dengan harga yang jauh jauh lebih murah dari harga pada umumnya.

At least, pada kunjungan yang kedua ini benar – benar memuaskan. Sama – sama menarik jika dibandingkan Pameran InterFood Indonesia 2014 yang diselenggarakan November kemarin. Tidak menyesal dah :D. Wonderfull Indonesia!

 

 

 

 

 

 

See ya!

DSC_5640

Diposkan pada Uncategorized

Sepotong Harapan dari Entrok, Sebuah Novel by Okky Madasari

“Nduk, Rahayu! Ibumu tidak membunuh, tidak mencuri, tidak menipu orang. Aku memanggang ayamku sendiri. Membuat tumpeng dari berasku sendiri. Apa dosaku?” (Sumarni)

Aku menyukai semuanya. Semua yang ada padanya. Meskipun hanya dalam diam, tersimpan rapat dalam satu ruangan hati. Cukup itu saja. Karena dia tidak lagi sendiri… Saat aku memandangnya, aku merasa seakan dia mengetahuinya. Lalu ia menoleh, membalas pandanganku, lalu tersenyum. Toh yang seperti ini bukan dosa” (Rahayu)

***

Kamu berdosa karena kamu tidak punya agama. Begitu kira – kira yang ingin diteriakkan Rahayu kepada Ibunya, Sumarni. Seorang Ibu pekerja keras, yang hanya mengenal Mbah Ibu Bumi Bapa Kuasa sebagai Tuhannya. Pertanyaannya apa yang salah dengan Ibunya yang mengimani Tuhan yang ia kenal sejak ia masih kecil karena itulah yang diajarkan Ibunya dulu, dibesarkan dengan ajaran tersebut. Dia terlahir dan dibesarkan di zaman ketika agama bukan menjadi suatu keharusan dan identitas yang melekat pada dirinya. Dan sayangnya yang ia imani tidak berada diantara salah satunya.

Bertolak dengan anaknya Rahayu yang diajarkan nilai – nilai agama di sekolahnya. Dua iman yang berbeda dari generasi yang berbeda. Itulah topik yang diangkat oleh Penulis Okky Madasari dari Entrok, sebuah novel ini.

Entrok Cover by Okky Madasari
Entrok Cover by Okky Madasari

Baiklah kita mulai kisah ini dari Entrok tersebut, sebuah beha (entrok) yang membawa pembaca pada sosok suksesnya Sumarni. Keinginan kuat untuk memiliki sebuah Beha, yang pada zamannya adalah sebuah barang mewah yang sangat jarang dimiliki orang – orang dilingkungannya. Sumarni yang sudah mulai tidak nyaman dengan kondisi tubuhnya tanpa benda yang bisa menopang buah dadanya pada posisi yang pas mendatangi Pakliknya untuk membelikannya benda tersebut, benda yang sudah dimiliki sepupunya walau hanya satu buah.

Si Paklik yang hanya seorang kuli bangunan dan harus menghidupi keluarganya juga dari upah yang kecil dengan berat hati menolak membelikan entrok kepada Sumarni.

“Kalau mau punya, ya minta sama bapakmu sana”, demikian kata Bukliknya. Dan pada poin inilah Sumarni menyadari tidak ada seorangpun yang bisa diharapkan untuk memberi apa yang dia minta, meskipun masih punya hubungan darah.

Bukan tanpa alasan ia tidak meminta pada Simbok, ibunya. Dia tahu diri karena ibunya yang ditinggal pergi bapaknya setelah malam pemukulan yang di lakukan bapaknya dan tak pernah pulang lagi, hanyalah seorang yang miskin. Tidak pernah dibayar dengan uang dari hasil mengupas singkong di Pasar Singget. Hanya upah satu singkong untuk sekilo singkong yang dikupas, itulah sumber kehidupan mereka.

Hingga pertemuannya dengan Kang Teja, yang kelak jadi suaminya, membantu ia mendapatkan uang dengan menjadi kuli yang mengangkut belanjaan di pasar, pekerjaan yang tidak umum bagi wanita kala itu. Hasilnya ia kumpulkan sampai tabungannya banyak, bahkan bisa membeli lebih dari satu entrok. Dengan kecerdikannya ia jadikan modal jualan sayur keliling sampai kredit panci dan alat – alat rumah tangga lainnya. Dia selalu memutar uang yang dia peroleh, bekerja dari subuh sampai malam tiada henti karena ia sadar jika tidak demikian ia tidak akan bisa menghidupi dirinya dan Simbok. Ia tidak akan punya uang dan ia tidak mau miskin lagi.

Perlahan – lahan disertai usaha yang keras, usahanya mendatangkan untung yang banyak,satu -satu sepetak tanah, bangunan rumah, sehektar tanah dan mobil walau itu semua tidak terlepas dari omongan – omongan sinis warga sekitar yang mengatakan itu semua hasil pesugihan. Yah begitulah manusia.

Hard Cover
Hard Cover

Yang menyedihkannya, bahkan anak sendiri mengatakan Sumarni seorang pendosa yang selalu memberikan sesajen kepada Mbah Ibu Bumi Bapa Kuasa. Suatu ucapan syukur yang diberikan Sumarni atas perlindungan dan rejeki yang diberikan Mbah Ibu Bumi Bapa Kuasa kepada ia dan keluarganya.

Hubungan Sumarni dan Rahayu semakin hari semakin memburuk karena perbedaan yang tidak seorang pun memahaminya kecuali mereka sendiri. Rahayu benci dengan ibunya yang tidak punya agama. Ibunya, Sumarni, seorang pendosa. Itulah yang tertanam dalam figur ibunya sejak ia sekolah.

Hingga Rahayu memilih untuk menjauh dari keluarganya, tidak pernah pulang, menikahi suami orang hingga pada akhirnya dipenjara dan kehilangan suami.

Berseting di awal era orde baru, novel ini sekaligus mengkritik masa pemerintahan kala itu yang kerap kali mengambil keuntungan dari rakyat. Kisah Sumarni merupakan salah satu gambaran carut marutnya kesewenang – wenangan aparat di masa rezim tersebut. After all, buku ini menarik bagi para pecinta kesustraan dengan tema bukan hanya romantisme belaka.

Tidak heran saat membaca novel ini berulang kali aku terbawa emosi dan pemikiran yang kadangkala bertentangan dengan beberapa tokohnya. Hingga sampailah aku kepada kesimpulan bahwa bukan kapasitas kita menghakimi manusia lainnya. Biarlah, biarlah mereka menyimpan Tuhan masing – masing dalam hatinya.