Diposkan pada Travel

Tour Dadakan


Alogo MangullusSudah keempat kalinya aku mengunjungi kota Pangururan ini. Kota yang berada di Pulau Samosir dengan Gunung Pusuk Buhit menjulang di tengah kota. Gunung muda yang muncul setelah letusan Gunung Toba 74.000 tahun lalu dengan aktifitas terakhir Gunung Pusuk Buhit ini terjadi 2000 tahun lalu atau lebih.  Menurut Kompas.com, Gunung Pusuk Buhit ini berupa Kubah Lava yang mengalami Alterasi Hidrotermal (suatu proses yang sangat kompleks yang melibatkan perubahan mineralogi, kimiawi, dan tekstur yang disebabkan oleh interaksi fluida panas dengan batuan yang dilaluinya, di bawah kondisi evolusi fisio-kimia), yang membuktikan bahwa Gunung ini masih aktif. Walau mungkin akan terjadi dalam ratusan ribu tahun ke depan.

Sampai saat ini rasa penasaran dan kekagumanku tidak bisa kugambarkan. Salah satunya dimana posisi Gunung Toba itu sendiri? Mungkin karena itu juga aku senang mengunjungi kota ini. Dismping itu, view Danau Toba yang merupakan Kaldera Gunung Toba dan menjadi Danau Vulkanik terbesar di dunia, disuguhkan kepada kami selama perjalanan melewati Tele. Walau aku dibesarkan dan menghabiskan sepanjang usiaku saat ini dikota Parapat (salah satu kota wisata yang terkenal dengan pantai Danau Tobanya), tetapi melihat Danau Toba dari sisi yang berbeda membuatku semakin terkagum – kagum.

Keberangkatan kami dari Medan menuju Pangururan mengahabiskan 7 jam perjalanan melewati rute Medan, Berastagi, Barus, Tongging dan Tele. Dibandingkan dengan rute menyeberangi kapal melalui Parapat, melewati Tele seakan lebih menantang. Mungkin karena jalannya kecil ditambah kelokan – kelokan tajam sementara di tepi jalan merupakan jurang yang masih sangat minim pembatas jalan sehingga sering kendaraan jatuh. Hal ini terbukti karena sehari sebelum kedatangan kami ke sini (28/03/13), ada sebuah truk yang terjun ke bawah akibat rem blong. Dua orang tewas dan dihari pertama kami tiba kami melihat truknya sudah  diangkat. Salut untuk supir yang membawa kami hingga sampai ke tujuan dengan selamat 😀

Hari pertama kami tiba, hal yang pertama dan tidak bisa dilewatkan adalah mandi di pinggir danau. Walau airnya dingin namun, menyelam bebas dan berenang di sana mampu menghilangkan beban fikiran kita. Kedatangan kami memang tepat di tengah cuaca yang cerah seperti ini. Matahari bersinar terik dan semilir angin menerbangkan rambut kami. Momen ini tidak bisa terlewatkan begitu saja. Kamera kecil yang selalu kami bawa segera diarahkan kepada kami untuk menangkap momen yang indah ini.
DSC01498

Puas berenang di danau, kami berkemas – kemas untuk melanjutkan perjalanan ke Pintu Batu. Sebuah tempat yang tepat untuk memandang danau dengan desa Sihotang tepat di depan dan dibawah tempat kami berdiri, air danau sangat tenang. Dengan menaiki motor hanya butuh 20 menit dari Desa Pintu Sona dan dari pusat kotanya kira – kira setengah jam saja. Jika melihat dari kejauhan seperti ini pemandangannya sangat indah. Ditambah batu – batu kapur hampir ada diseluruh tempat, membuat kami seakan menginjakkan kaki diatas salju.
Pintu Batu
Tour Dadakan

Satu jam berlalu kami kembali pulang ke rumah teman di Pintu Sona dan makan siang bersama. Beberapa menit yang kami habiskan mampu mengembalikan kekuatan kami untuk melanjutkan penjelajahan kami mengelilingi kota Pangururan. Tujuan berikutnya ke Pasir Putih, Parbaba. Karena sudah pernah kesini sebelumnya, aku tidak terlalu excited. Di hari libur  seperti ini Pasir Putih dipenuhi banyak orang. Hampir semua tempat penuh dengan orang – orang yang kebanyakan para keluarga – keluarga yang sedang berlibur. Dikatakan Pasir Putih karena pantainya dipenuhi pasir berwarna putih. Ada banyak permainan yang dapat dijumpai disini seperti, bola air, bebek- bebek, kano, banana boat dan speed boat.

Pasir Putih

Sore menjelang, kami bergerak menuju Hot Spring atau pusat pemandian air panas. Sebelumnya kami singgah terlebih dahulu ke dermaga yang berada di bawah lokasi pemandian air panas. Dermaga ini sudah lama tidak berfungsi, terlihat dari jembatannya dengan kayu yang sudah mulai lapuk. Kami tidak menyia – nyiakan kesempatan ini untuk berfoto. Airnya yang biru putih akibat campuran tanah dan batu kapur mengingatkanku pada  lokasi syuting film India Kaho Na Pyar Hai (seperti di laut :D).

Dermaga

Dari sana kami menuju pemandian air panas. Ada begitu banyak tempat pemandian dengan fasilitas seadanya (kamar ganti dan toilet saja). Tapi tempat yang selalu menarik perhatianku adalah yang berada di tempat paling atas lokasi tersebut. Karena dari sana kita bisa menikmati pemandangan danau sambil berendam air panas, air panasnya juga tidak terlalu panas (kira-kira 400C)  jika terkena kulit sehingga berendam berlama – lama pun tidak membuat kulit melepuh. Untuk dapat mandi disini biayanya pun terbilang murah cukup mengeluarkan uang sebesar Rp. 4.000 atau hanya memesan makanan/minuman saja jika kita kebetulan lapar atau haus (karena di sini tidak diperbolehkan membawa makanan atau minuman dari luar). Hitung – hitung menghemat, pilihan yang kedua akan lebih baik. Tapi dengan catatan jangan memesan terlalu banyak karena harga makanan dan minuman di sini terbilang cukup mahal untuk kantong anak sekolahan. Pengalaman seorang teman kami yang memesan telur rebus 2 butir dan kopi instan, tiba saat membayar harganya 2 kali lipat dari harga normal. Jangan heran karena memang lokasinya yang jauh dari pusat kota sehingga harus butuh uang ekstra untuk biaya transportasi.

Di tempat pemandian ini, kita dapat melihat aliran air panasnya langsung dari sumbernya. Jika ingin melihat pemandangan yang lebih menakjubkannya lagi, kita bisa mendaki kaki gunung melewati batuan-batuan kapur. Jangan lupa memakai alas kaki karena batuan kapur yang tajam akan menyakiti kakimu.
Pemandangan dari bawah pemandian
DSC01955

Berendam di air panas membuatku sangat rileks.Otot – otot tidak menegang lagi dan memberikan rasa nyaman. Jarang – jarang saya bisa menikmati spa alami seperti ini oleh sebab itu 2 jam yang kami lewati berlalu dengan tidak terasa. Tanpa terasa matahari tenggelam kembali ke peraduannya sama seperti kami yang harus pulang ke rumah, beristirahat dan bangun di esok harinya menantikan tempat apa yang besok akan kami kunjungi.

Pagi kembali menyambut kami, ini hari ketiga kami berada disini dan akan kembali ke Medan. Rasanya waktu berlalu begitu cepat. Kedatangan yang singkat namun tidak berlalu dengan sia – sia. Dan berhubung kedatangan bis yang membawa kami pulang baru datang pukul lima petang, kami memilih untuk menghabiskan waktu yang tersisa dengan mengunjungi satu tempat lagi, yaitu Desa Aek Sipitu Dai. Dikatakan Sipitu Dai karena desa ini dikenal dengan sumber airnya yang konon memiliki tujuh rasa sesuai dengan namanya Pitu Dai (tujuh rasa). Rasa penasaranku muncul terutama disepanjang jalan menuju ke sana. Dari tempat kami berangkat, Pintu Sona, dengan menaiki motor membutuhkan waktu setengah jam saja. Jalannya melewati Tele. Sempat deg – degan juga karena mobil yang melaju disini sangat kencang ditambah ada jalan yang rusak dan berdebu. Namun, tidak mengurangi kenyamanan kami untuk melanjutkan perjalanan.

Akhirnya, sampai juga di desa Aek Sipitu Dai. Aku sedikit kaget setibanya disana dan melihat sumber air Sipitu Dai ternyata dijadikan sebagai tempat pemandian sekaligus tempat mencuci pakaian dan yang lainnya. Bukankah itu merupakan objek wisata? Karena saat kami tiba disana ada begitu banyak mahasiswa yang sepertinya hendak melakukan penelitian. Sayang rasanya saat masuk kesana ternyata ada penduduk sekitar yang sedang mencuci pakaian ditempat yang sesempit itu. Agak riskan juga saat kami ingin mencoba rasa air tersebut, tetapi untuk memuaskan rasa penasaran ini kami mencoba air yang mengalir dari patung seorang wanita bersarung yang memegang bambu dan dari sanalah  air itu mengalir. Rasanya? Hmmm… aku tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk melukiskan rasanya. Benar kata orang disekitar saat kami tanya apakah benar airnya memiliki tujuh rasa? Mereka hanya mengatakan tergantung kita merasakannya bagaimana. Jika aku mengatakan ternyata ada sembilan rasa, kemungkinan yang lainnya akan mengatakan enam rasa. Intinya, datanglah dan rasakan sendiri 😀

DSC01877
Air 7 rasa (Sipitu dai)

Pemandangan dari desa ini pun tidak kalah bagusnya karena ada dua bukit yang menjulang dan ditengahnya ada sebuah bukit kecil dari kejauhan. Sungguh pemandangan yang sangat unik. Sayang tempat ini menjadi tempat yang terakhir kalinya kami kunjungi padahal masih ada banyak tempat lagi yang menunggu untuk dikunjungi oleh kami. Thanks to Danny Ida sisters sudah berusaha untuk tetap melanjutkan rencana perjalanan yang sudah hampir tertunda ini. Dan yang turut meringankan biaya perjalanan ini (hehe… terimakasih atas tumpangan rumahnya J). Bye Pangururan.. hope you in three, six years or more still beautiful and  astonishing. Someday I hope when I become old I will see the same view and beautiful place. remembering me I’d ever been here when I was young :D. Save it for our next generations .

Dua Bukit di Desa Aek Sipitu Dai

Kalau kamu salah satu orang yang ingin mengunjungi tempat ini, sedikit saya kasih bocoran mengenai pengeluaran kami selama perjalanan:

  • Transport dari Medan – Pangururan bis Sampri (ekonomi) Rp. 55.000, jika ingin bus yang lebih nyaman (eksekutif) ada bis Royal Rp.75.000
  • Biaya menginap gratis 😀 (kalau biaya penginapan akan lebih banyak biaya kira – kira Rp. 180.000/malam) Jadi jauh – jauh hari hubungi semua koneksi yang berada disana (siapa tahu bisa menumpang, hahaha)
  • Biaya transport lain – lain selama perjalanan  disana gratis juga 😀 (berhubung di sana tidak ada angkot seperti di Medan, jadi kemana – mana harus menggunakan motor. Sekali lagi, pakai koneksi. Hehehe)
  • Biaya masuk ke pemandian air panas Rp. 4.000

 

11 tanggapan untuk “Tour Dadakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s