Diposkan pada Catatan

PUCO

Waktu Puco pergi diusianya yang 10 tahun, dalam perhitungan usia manusia ia kira – kira sudah 70 tahun (1 tahun usia manusia = 7 tahun usia anjing). Lantas muncul pertanyaan dalam benakku, mengapa mereka tidak  diberikan cukup banyak waktu? Di suatu pagi dalam saat teduhku, bahan renungan di pagi itu berbicara mengenai memanfaatkan waktu dalam hidup. Ada seekor anjing yang harus disuntik mati (Euthanasia) karena penyakitnya. Bocah kecil si empunya anjing mengatakan ditengah rasa kehilangannya “Saya tahu mengapa?” Seakan turut menjawab  pertanyaanku, “Manusia dilahirkan agar mereka dapat belajar, bagaimana hidup di dalam kehidupan yang baik, seperti mencintai setiap orang dalam setiap waktu dan menjadi orang baik. Benar? Tetapi, para anjing sudah mengetahui bagaimana cara melakukan hal tersebut, jadi mereka tidak harus tinggal terlalu lama di dunia”.

Hewan peliharaan apapun  jenisnya, baik itu anjing ataupun kucing (pada umumnya) tanpa kita sadari mengajarkan kita cara untuk berbagi, bertanggung jawab dan menyayangi. Aku ingat pertama kali punya anjing peliharaan. Namanya Riting. Namun, ia tidak bertahan lama karena sakit yang kami tidak tahu apa. Aku masih  ingat detik – detik ia menghembuskan  nafasnya. Anehnya ada banyak semut merah yang mencoba menggerogoti tubuhnya. Aku dan kakakku sebisa mungkin berusaha menyingkirkannya, aku ingin melihat ia mati  dengan baik bukan dengan seperti itu.

Lama sejak saat itu, akhirnya ada juga yang menggantikanya. Warnanya hampir sama dan kami menamainya dengan nama yang sama juga. Sebut saja ia Riting II, ia anjing yang tergolong pintar untuk anjing jenis kampung. Ia bukan anjing ras namun, bentuk tubuhnya dan bulunya menunjukkan indukannya bukanlah jenis biasa. Dari dialah lahir Puco. Jika dirunut ke belakang sudah banyak anak – anak anjing yang ia lahirkan tapi hanya Puco yang tetap bertahan. Sedangkan yang lainnya ada yang dijual dan diberikan kepada saudara. Satu hal yang paling kuingat dari Riting II, ia sangat pintar. Saking pintarnya ia tidak ingin diperlakukan seperti jenisnya (nah loh… ). Jangan coba – coba dekati ia jika tidak ingin digigit, paling sensitif dan tidak suka diperintah. Mungkin ada juga pengaruh dari namanya (Riting dalam bahasa Indonesia artinya cerewet). Walau demikian ia peliharaan yang setia, ia selalu menemani mama di pagi hari buka kios atau siapapun itu diantara kami yang  hendak ke kios. Rasanya seperti ada bodyguard yang mengawal kita saat berjalan. Ia akan menunggu sampai malam hari dan pulang kembali bersama kami.

Berbeda dengan sifat Riting II, Puco jauh lebih baik dan mudah mengerti. Saat aku mengajaknya bicara ia seakan mengerti apa yang kita katakan. Entahlah, mungkin bukan hanya aku saja yang merasakan ikatan dengan hewan peliharaan sendiri. Tapi dengan Puco, aku merasa ada seorang teman yang selalu mendengar dan tidak pernah menyakitiku. Teman yang tidak  akan memotong omonganmu  dengan ceritanya tapi cukup mendengar saja. Kau juga tidak perlu berpura – pura di depannya karena ia akan menerimamu apa adanya.

Aku masih ingat saat aku melakukan salah dan mama memarahiku. Dalam fikiran seorang anak kelas VI, aku ingin lari dari rumah tapi urung kulakukan. Aku tidak cukup banyak keberanian melakukannya apalagi di malam hari seperti saat itu. Lantas aku duduk di teras dengan meratapi nasib 😀 Saat itu, aku tidak ingin menangis, tapi semakin aku menahannya semakin banjirlah air mata. HAhAHA . Puco tiba – tiba duduk disamping kiriku (ia selalu di teras karena tidak diperbolehkan masuk rumah). Merasa mendapat teman di kala susah, aku sedikit tersenyum memandanginya. Aku menariknya supaya dekat denganku dan memeluknya. Lagi aku menangis. Hahaha, jika aku membayangkan saat itu rasanya seperti di sinetron Indonesia saja. Apalagi saat itu hujan sedang turun, semakin menambah kesan dramatis. Tapi pada intinya, disaat aku sedang sedih ia mampu menghiburku. Ia selalu ada saat aku kena marah mama, berantam dengan saudara dan saat aku bosan :D. Satu hari tidak menciumnya, rasanya seperti ada yang kurang hahahaha…

13 Agustus 2011, kudengar  kabar dari kakak bahwa Puco sudah mati. Saat itu aku ada di Siantar sedang dalam Program Pengamalan Lapangan (PPL). Yah, walau tidak sedramatis film Hachiko tapi aku merasa sedih juga saat tahu bahwa ia sudah tidak ada. Di saat jauh sedihnya belum terasa, tapi di saat pulang ke rumah langsung terasa kehilangan. Sejak saat itu, ada beberapa anak anjing diangkat menjadi penggantinya. Tetapi tidak bertahan lama juga. Entah itu karena diambil balik pemiliknya 😀 dan ada juga karena ditabrak 😥

Pernah satu kali saat belanja di Sambu, pusat baju import 😀 (satu istilah untuk tempat jual pakaian bekas di Kota Medan), aku melihat sebuah boneka anjing. Pertama melihatnya, aku langsung ingat Puco. Senang juga ada boneka yang rada – rada mirip binatang peliharaan kita. Tawar – ditawar akhirnya jatuh juga boneka itu ditanganku. Dengan harga Rp.5.000 saja aku bisa mengenang Puco lagi  J Selain warnanya yang Putih Coklat sama (sesuai dengan namanya Puco), boneka itu juga memiliki mata yang besar mirip dengan Puco. Sayang tidak ada boneka yang mirip  dengan Riting juga.

Puco & its twin

Yah, hewan  peliharaan memang terdengar sangat kasar bagi seorang sahabat yang tidak bisa berbicara ini. Mereka tidak punya Animal Rights (Hak Kebinatangan) dan kadang  diperlakukan semena – mena  oleh pemiliknya. Tidak usah jauh – jauh, dilingkungan tempatku tinggal anjing dan kucing dijadikan makanan 😥 . Dan bukan hanya di wilayah Sumatera Utara saja, tapi di wilayah Indonesia lainnya, anjing malah terang – terangan diperjual – belikan untuk dimakan dagingnya. Sedih dan miris rasanya…

Semoga kita dapat  belajar dari sahabat – sahabat kita yang tidak bisa berbicara ini. Karena mereka telah memberikan kita banyak pelajaran, they are more than just animal.