Diposkan pada Travel

Pantai Batu Hiu di Desa Ciliang, Kecamatan Parigi, Ciamis, Jawa Barat

Jika kau pernah membaca tulisanku sebelumnya di Pantai Batu Karas dan Green Canyon, mudah – mudahan masih ingat bahwa sepulangnya dari Pantai Batu Karas dan sungai Green Canyon, Pangandaran, kami bergerak menuju Pantai Batu Hiu. Kira – kira 1 jam jaraknya dari Cijulang, Pangandaran.

Saking hebatnya pantai ini, tidak banyak hal yang bisa kusampaikan kecuali membagikan foto – foto keindahan pantai tersebut. Cukup membayar tiket masuk Rp.30.000/mobil, tapi sedikit catatan jika saya tidak salah ingat bahwa tarif yang dikenakan berbeda tiap kendaraan. Selain itu sediakan uang Rp.5.000an untuk biaya parkir.

Scenery Pantai Batu Hiu dari atas bukit
Scenery Pantai Batu Hiu dari atas bukit
Nyiur melambai
Nyiur melambai
Siapa yang tidak betah memandangi laut di bawah pohon seperti ini?  :)
Siapa yang tidak betah memandangi laut di bawah pohon seperti ini? 🙂
Bersantai di bawah lindungan. pohon - pohon Pandan Wong
Bersantai di bawah lindungan. pohon – pohon Pandan Wong
Deretan pohon - pohon Pandan Wong
Deretan pohon – pohon Pandan Wong
Hey, lihat apa yang kutemukan!! Waktu SD aku terbiasa menyebutnya siput (not ; sea food)
Hey, lihat apa yang kutemukan!! Waktu SD aku terbiasa menyebutnya siput (not ; sea food)

Pantai Batu Hiu terletak di desa Ciliang, kecamatan Parigi, Jawa Barat. Seperti yang saya bilang sebelumnya, kira – kira 1 jam dari Pangandaran menuju ke arah selatan. Hal ini dikarenakan akses jalan di Pangandaran masih kurang memadai.

Dan tahu tidak bahwa hamparan air membiru dengan ombak putih yang bergulung – gulung yang tersaji di hadapanmu  jika mengunjungi tempat ini adalah Samudera Indonesia (aku baru tahu saat mulai menuliskannya di blog ini -shy-)

Jadi jika hasratmu menggebu  – gebu untuk berenang harus dipendam dulu sedalam – dalamnya. Karena pengunjung tidak diperbolehkan untuk berenang di bibir pantai apalagi ke tengah pantai :p

Tapi, jangan kecewa dulu walau tidak bisa cebar – cebur karena bermain air disini tidak kalah serunya. Yah misalnya main kejar – kejaran dengan ombak yang pasang surut di bibir pantai, seperti di salah satu MV One Direction itu loh, atau memendam badanmu di pasir pantai (asalkan jangan terlalu dekat dengan air, bukannya senang malah kelelep dah :D)

Indah tapi tidak tersentuh :)
Indah tapi tidak tersentuh 🙂
DSC_9409
Gulungan ombak putih menghantam karang
Bukit dimana kau bisa menikmati hamparan air membiru Samudera Indonesia
Bukit dimana kau bisa menikmati hamparan air membiru Samudera Indonesia
Tak ketinggalan, foto – foto dulu
DSC_9414
Great 🙂

Kamu pasti berfikir kenapa dinamakan dengan Batu Hiu? Apakah karena banyak hiu sehingga salah satu alasan pengunjung tidak perbolehkan berenang disini adalah karena banyaknya hiu? Stop, terlalu banyak berkhayal jadinya, hehehe..

Kurang tahu historisnya bagaimana, tapi aku mengkaitkannya dengan sebuah lorong yang berbentuk hiu. Lorong ini menghubungkanmu ke sisi lain pantai. Masuk ke lorong ini biasa saja, tapi ketika keluar dari lorong kamu akan berada tepat di mulut hiu. Seakan – akan kamu sedang dimangsa hiu besar ini. Disebelah lorong, ada patung simbol Pantai Batu Hiu yang melambangkan tiga ekor hiu.

Sirip lorong hiu yang tampak menyerupai aslinya
Sirip lorong hiu yang tampak menyerupai aslinya
DSC_9446
Adakah hiu sebesar ini?

 

Patung Batu Tiga Hiu
Patung Batu Tiga Hiu
See, Dilarang berenang di Pantai ini karena berbahaya!
See, Dilarang berenang di Pantai ini karena berbahaya!

Oke, menutup perjalanan dari Pangandaran dan Ciamis ini kami singgah ke Bandung. Dari Paris Van Java menuju Kampung Gajah yang makan waktu hampir 3 jam karena kondisi jalan yang macet total hingga akhirnya sampai di Kampung Gajah sudah tidak menerima pengunjung a.k.a tutup. Apa daya karena esoknya harus Kembali ke Jakarta yah cuma numpang foto sajalah 😀

Paris Van Java
Paris Van Java
Numpang foto sajalah
Numpang foto sajalah
Gak mau mati gaya ya begini nih...
Gak mau mati gaya ya begini nih…

CAM00624

 

Diposkan pada Catatan

Remember This

Aku harus menuliskannya. Seperti sebuah garis tebal hitam yang melingkari tanggal kau putus dengan kekasihmu. Hari dimana kau ingin melupakannya namun kau putuskan tidak karena kau sadar sebagian hal yang kau anggap berharga telah pergi. DAN AKU HARUS MENULISKANNYA.

Sebuah transisi, titik balik atau apa pun namanya yang membuat jalan pikiranku berubah dan aku merasa ada saatnya untuk mendengarkan hatiku, kali ini. Dan pantas untuk kutuliskan untuk mengingatkan aku pada sosokku kala ini. Sudah saatnya…

Walau nanti ketika aku melihat ke belakang akan ada beribu penyesalan tapi itu adalah jalan yang ku pilih. Dengan segala konsekuensi, aku harus siap menjalaninya. Aku tidak ingin menyalahkan diriku saat ini untuk 5 tahun ke depan. Tidak. Aku sudah memutuskannya.

Jika ia untukku, ia akan datang dengan wujud yang lain, dengan kemasan yang berbeda. Mungkin lebih baik dan mungkin juga lebih buruk, aku siap.

Di Jakarta dan bukan (yang seharusnya) di Medan, 16 Desember 2014

 

 

 

Diposkan pada Catatan

To My Dearest Self

DSC_0157[1]
Menambah satu buku yang telah aku baca di deretan buku lama lainnya adalah salah satu hal yang kusuka
Wah, ternyata sudah cukup lama aku tidak menulis apa pun sejak postingan terakhirku. Dan menulis kembali adalah salah satu terapi mental yang kubutuhkan saat ini dan perlu juga untuk kamu coba tentunya. Akhir –akhir ini aku disibukkan dengan dokumen – dokumen, keluhan – keluhan dari store dan tekanan – tekanan pekerjaan yang semuanya membutuhkan kecepatan tingkat dewa. Bahkan Shinkansen saja masih kalah cepat :

Oke, maksudku ini adalah Desember, lupakan mengenai pekerjaan karena ini Desember. Natal dan Tahun Baru, liburan menanti. Tapi berita buruknya ditempatku bekerja sekarang hanya libur pada tanggal merah saja, harpitnas. Padahal jauh – jauh hari aku sudah mencari lokasi liburan yang kira – kira seru dan menantang serta dengan biaya yang murah. Awalnya ingin ke Karimun Jawa namun batal karena menurut salah satu blogger yang pernah melakukan perjalanan kesana beberapa kali, disarankan mengunjungi pada musim – musim panas bukan musim penghujan seperti sekarang ini. Kalau musim – musim seperti ini aku malah jadi ingin mencoba Rafting lagi -Ngarep Mode on-. Atau mengunjungi Anak Gunung Krakatau dan snorkeling serta menikmati keindahan pantai –pantai di pulau – pulau kecil disekitarnya. Huft… ada begitu banyak rencana.

IMG_20141004_170528[1]
Beristirahat sejenak di Killiney Kopitiam ditemani buku baru yang langsung menarik perhatianku dengan resensinya yang menarik
Tapi tahu tidak hal ini cukup membantu membangkitkan semangat kerja, maksudku bagian dimana merencanakan liburan itu. Yah, tadinya aku tidak ingin mengeluhkan masalah kerja dan membicarakannya, namun sepertinya moodku lagi bagus menuliskan hal ini. Karena sejak bekerja di tempatku yang sekarang, aku kembali menemukan hobbyku yang sudah lama hilang yaitu membaca. Bayangkan,  dalam 1 bulan aku sudah melahap 3 novel dengan rata- rata berjumlah 400 halaman. Bagaimana caranya? 1,5 jam jarak yang kutempuh berangkat kerja dan 2 jam perjalanan pulang. Bukan karena jaraknya yang berkilo – kilo meter tapi parahnya kemacetan lalin di Jakarta ini.

Dan kunjungan ke Toko Buku pada awal bulan langsung menempati deretan pertama dalam list “Apa yang akan kulakukan setelah gajian”.  Killiney Kopitiam, satu –  satunya tempat yang asyik buat nongkrong menjadi pilihanku melepas rasa lelah sejenak setelah memutari barisan – barisan buku dengan sampul – sampul yang dirancang semenarik mungkin. Jauh di dalam benakku, suatu hari bukuku akan berada di deretan itu juga.

DSC_0118[1]
Sekali – kali menikmati makanan yang aku suka walau tidak sehat tidak ada salahnya 😀
 Masih seputar kerja, aku mulai belajar menghargai diriku sendiri. Semakin aku disibukkan dengan pekerjaan, semakin aku menyayangi diriku. Aku mulai melatih diriku untuk  sarapan dan makan siang tepat waktu. Setumpuk pekerjaan menantiku dan aku harus membekali tubuhku dengan asupan makanan yang dibutuhkan agar dapat menyelesaikannya. Mendengarkan lagu – lagu kesukaanku, membeli tas baru dengan harganya yang setara dengan biaya bulananku sewaktu kuliah dulu, botol minuman 1,5 liter selalu terisi penuh dan bisa kupastikan selalu kosong sebelum aku pulang, tidur dengan jam yang teratur (kecuali malam aku menghabiskan waktuku menyelesaikan tulisan ini) serta komunikasi dengan keluarga yang tidak putus.

Sangat menyenangkan mengetahui bahwa aku masih mempedulikan diriku sendiri. Because I’m worthy.

Karena begitu banyak hari – hari yang kulewati dengan mengutuki diriku sendiri karena kesalahan kecil (yang terkadang kuanggap besar), tidak bersahabat (dengan diriku sendiri) dan terlalu kejam menilai diriku bodoh.

Ah, aku benar – benar menikmati saat – saat aku berdamai denganku. Aku harusnya lebih sering melakukan apa yang kusuka untuk menyenangkannya 🙂

xxx To my dearest self _D xxx