Diposkan pada Uncategorized

Drama Cinta Burung – Burung Manyar by Y.B. Mangunwijaya


“Sebab memanglah kita dapat sedih dan marah membongkar segala yang kita anggap gagal, namun semogalah kita memiliki keberanian untuk memulai lagi dengan penuh harapan” (Larasati Janakatamsi “Atik”;325)

Setelah sekian lama, kini saya berhadapan lagi dengan sosok cerdas Romo Mangun dalam bukunya Burung – burung Manyar. Pertemuan pertamaku adalah saat  masih duduk di bangku SMA. Saat itu membaca novel – novel sastra Perpustakaan sekolah seperti sebuah candu saja, salah satunya Burung-burung Manyar ini. Namun ada perbedaan yang cukup besar dari cara pandang seorang anak SMA dengan saya yang sekarang. Dulu ya, baca buku hanya fokus ke kisah Roman nya saja, antara Teto dan Atik (yang tidak seindah harapanku). Namun sekarang, dibalik itu ada begitu banyak pelajaran yang ingin disampaikan penulis. let me show you!

Burung - burung Manyar, cetakan ke II
Burung – burung Manyar, cetakan ke II

Larasati atau Atik tidak suka dengan anak laki – laki itu, ya ia yang mengusik burung – burung kecil yang sedari tadi diamatinya. Anak laki – laki berusia 12 tahun itu memanjat pohon dan membidikkan pelantingnya ke arah burung srigunting. Ia cemberut, benci ia pada Teto, sipemilik nama itu.

Atik kenal dengan anak itu, ia anak dari Om Bas (Brajabasuki) sang Loitenant Eerste Klas (Letnan Kelas Satu) KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) dengan Ibunya, seorang Belanda totok yang ditugaskan di Magelang. Anak jahat yang menekan hidungnya seperti tombol kala ia diperkenalkan pertama kalinya beberapa tahun lalu. Dia juga nakal karena ia suka memelanting burung – burung kecil kesukaan Atik, suka meloncat dan berenang di selokan besar, memanjat, semua ia bisa hanya Atik tidak menyukainya.  Ia berlari ke dalam kamar dan melanjutkan membaca buku yang diberikan ayahnya kepadanya, umurnya masih 10 tahun kala itu.

Berbeda dengan Teto yang sangat menikmati perannya sebagai anak kolong kampung, ia menghabiskan banyak waktunya bersama anak – anak kopral, sersan dan serdadu kelas satu. Tidak peduli ia pada pandangan maminya yang sangat konservatif bahwa tidak selayaknya ia berbaur dengan kalangan ‘bawah’ (Bagi maminya, anak – anak dari orangtua yang posisinya tidak setara dengan suaminya hanya kelas bawah). Sementara ayahnya justru menganggap pergaulan dengan anak – anak kelas bawah itu suatu saat pasti akan menguntungkan Teto.

Hingga sampailah masa kejatuhan Kolonial Belanda, Sang Letnan Kelas Satu ditangkap Kempetai (tentara Militer Jepang yang ditempatkan di daerah jajahan). Teto menyadari posisinya kini berubah. Dia harus mampu menggantikan posisi ayahnya, melindungi maminya. Namun, siapa sangka maminya justru meninggalkannya, menjumpai Kempetai yang menangkap ayahnya  untuk menjadi gundik. Hancur hati Teto, sia – sia semua kebanggaannya pada maminya, satu-satunya keluarga yang ia miliki. Ibu yang melahirkannya justru menjadi gundik musuhnya.

“Sebab memang berhari – hari jiwaku terobek – robek. Apakah aku harus bangga dan memuji Mami ataukah aku harus membunuhnya?” — Teto;52

Dendamnya bertambah seiring waktu, dia benci semua yang berbau Jepang. Dia juga benci bangsa ini, bangsa yang membongkok – bongkok kepada bangsa Jepang dan berteriak di alun – alun meneriakkan “Inggris kita linggis! Amerika kita setrika! Dai Nippon, banzai!” Bahkan ditengah gencar – gencarnya bangsa merebut kemerdekaan Indonesia — berdiplomasi dengan penjajah Jepang juga melawan Hindia Belanda, dia lebih memilih tetap memihak Kerajaan Hindia Belanda. Ia bergabung dengan NICA dibawah bimbingan Mayoor Verbruggen, Perwira yang ditolak cintanya oleh Marice, ya maminya sendiri. Tidak habis fikir dia kenapa maminya lebih memilih ayahnya, Belanda hitam yang Jowo dengan tampang bloon dibanding si Perwira tampan dan cerdas dalam menghadapi Kempetai Jepang. Ah, apalah yang ia tahu soal wanita, ia bahkan belum bisa memahami keputusan maminya yang bersedia menjadi lonte Kempetai Jepang.

“Tetapi wanita memang rahasia besar. Lelaki hanya bungkusan rahasia itu, bahkan biasanya bungkusan yang kaku dan lekas robek” — Teto;76

Dan  ia pun dipertemukan kembali dengan takdirnya — Atik, wanita yang ia anggap sebagai adik juga kekasih. Seperti dendamnya sebesar itu jugalah cintanya pada Atik. Teto sadar dendam di hatinya akan merusak dan menggerogoti dirinya sendiri. Tidak ada seorangpun yang bahagia dengan membawa dendam bahkan jika itu berbalas sekalipun. Cintanya pada Atik, dia tahu akan berbalas tapi tidak akan membuahkan kebahagiaan. Atik dibesarkan di keluarga yang mencintai bangsanya, tidak demikian dengan Teto yang tidak pernah merasa menjadi bagian dari bangsa ini. Atik dengan cita – citanya ingin turut serta merebut kemerdekaan, terbukti dengan peranannya sebagai juru ketik istana — berbanding terbalik dengan Teto, seorang tentara musuh yang didalam darahnya sudah mengalir  darah NICA. Dua karakter, ideologi dan tujuan hidup yang berbeda tidak bisa dipatahkan hanya dengan kesamaan rasa, Cinta.

“…aku tidak berfikir macam – macam selain ingin memiliki Atik. Kelak aku baru tahu bahwa memiliki saat itu hanya ingin memerkosa Atik agar dimasuki oleh duniaku, oleh gambaran hidupku. Tanpa bertanya apa dia mau atau tidak. Dan sesudah sadar, bahwa itu tidak mungkin, kudobraki duniaku, dan aku hanya bisa menangis. Atik jelas bukan adik. Ia praktis pengganti mamiku…” Teto;115

“Mengapa ia memilih Teto? Karena ingin menyelamatkannya dari suatu kehancuran yang sudah  menampakkan diri dalam seragam serdadu KNIL sekian tahun lalu di jalan Kramat itu? Apakah rasa kasihan cukup untuk dijadikan sendi hidup perkawinan?” Atik;219

Atik sudah lama memikirkannya. Kesalahan Teto hanyalah menempatkan secara langsung soal keluarga dan pribadi di bawah sepatu lars politik dan militer. Kesalahan Teto hanyalah, ia lupa bahwa yang disebut penguasa Jepang atau pihak Belanda atau bangsa Indonesia dan sebagainya itu baru istilah gagasan abstraksi yang tidak bisa mewakili kesalahan personal. Yang menodai maminya bukan bangsa Jepang, tetapi Ono atau Harashima. Teto tetap Teto, dan bukan “pihak KNIL”. Dia hanya seorang anak Mursal (hilang atau minggat dari rumah). DSC_8214

Bahkan ketika Atik sudah menjadi Nyonya Janakatamsi, menjabat Kepala Direktorat Pelestarian Alam dan memiliki dua orang anak, cintanya masih untuk Teto. Ia selalu menunggu kepulangannya. Dan Atik tidak menduga ia akan melihat sosok yang dia rindukan itu menghadiri sidang mempertahankan tesisnya pagi itu. Setelah sekian tahun tidak bertemu tak sekalipun ia melupakan sosok itu. Ia yang sudah lama tidak menginjakkan kaki di negeri ini.

Teto memandang sosok Atik memasuki aula didampingi suaminya, usianya juga sudah lebih dari satu tahun dari 40. Dia masih memiliki kecantikan yang khas seperti kunang – kunang, tidak glamour seperti perempuan yang menghadiri resepsi. Zaman sudah berubah, usia bertambah dan kondisi sudah tidak sama lagi. Jika saja ia bisa kembali kesaat dimana ia salah dalam mengambil keputusan itu dan memperbaikinya, bisa jadi Tetolah yang berada disisi Atik saat ini. Hush, sudahlah…

Memang benar yang Atik sampaikan dalam Tesisnya mengenai Burung Manyar. Ia sempat mendengarkan sampai akhirnya ia putuskan meninggalkan aula sebelum acara usai karena ia belum siap menghadapi Atik dan suaminya. Toh, sebenarnya ia tidak diundang, ia hanya ingin melihat Atik dan itu sudah tercapai.

Burung manyar jantan sangatlah ahli dan berseni membangun sarang. Saat musim kawin tiba, mereka akan berlomba – lomba membangun sarang paling indah. Sementara burung manyar betina hanya akan mempertimbangkan dan memilih yang berkenan di hatinya. Bagi yang tidak dipilih, sungguh menyedihkan hati. Tapi sang pejantan tidak akan frustasi, dia akan kembali mengumpulkan alang – alang, daun – daun tebu dan sekali lagi mulai membangun sarang yang baru, dengan penuh harapan semoga kali ini berhasil dianugerahi hati yang seperti seorang putri Keraton”. 

Atik menegaskan bahwa manusia dapat belajar dari Burung Manyar. Citra dan jati diri yang belajar dari kegagalan dan bangkit kembali. Tapi Teto bukanlah Burung Manyar, itulah kesulitannya.

Sentilan, demikian kurasa yang ingin disampaikan Romo Mangun. Ia dengan cadasnya menggambarkan nilai – nilai humanisme dengan bahasa yang mengalir liar dan berat (kadang saya harus buka KBI dulu baru ngertos) shy-whistlerTak jarang kamu juga akan menemukan  dialog – dialog dari sudut pandang seorang asing memandang bangsa ini, seperti percakapan Teto dengan si Tuan Ambasador atau antara Teto dengan seorang Sersan mayor PM misalnya.

“…. tetapi ini bangsa kuli. Harus dijadikan kuli. Coba mereka kau injak, barulah mereka hebat bekerja, dan keluarlah daya akal mereka yang mengagumkan. Tetapi bila diberi hati dan dimanja, sudahlah, kembalilah mereka menjadi anak kecil yang merengek – rengek permintaan bukan – bukan tidak masuk akal” Tuan Ambasador;253

“Dia berkata bahwa penduduk disini kejam sekali. Wajah serba senyum dan sopan santunnya luwes, tetapi terhadap sesama bangsa, keji. Sebagai asisten residen ia setiap hari keliling untuk mendengarkan keluhan rakyat dan membela mereka terhadap kesewenang – wenangan raja atau bupati mereka” Sersan mayor PM;199

Sedikit ditamparlah, tapi dari novel ini kita bisa berkaca bahwa kekecewaan, kegagalan dan kesalahan hanyalah proses up and downnya hidup. Tidak ada salahnya belajar dari mereka. Jika tidak, malulah sama burung…

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s