Diposkan pada Catatan

#DIY Do It Your Self

I love to be busy, I mean busy with my self.. Rofl 😁

This sunday seems so boring, I found my besties sleep whole day and the others went out to Ancol with her family. Oke the choices were between sleep or going out. But I didn’t take both of them. Hahaha, it was caused the first one already made me headache (I woke up late this morning) and the second choice that wasn’t the wisely way for this condition (hmm, end of month).

Then I rolled my eyes, looking for something, hopely found some interesting thing in my room. There were 3 novels had not been read, a styrofoam box ex Durian pancake from Medan and also lot of not ironed clothes. Huft!!

Got an idea, I took the white styrofoam box and tried making it better than dumped. Buying two colorfull papers wrap, I covered all the surface by it and put a ribbon on the top (that was a ribbon from my friend’s pant).

After twenty minutes, a new look from styrofoam box changed. The result, maybe somehow I’ll use it by putting my panties inside in order to keep it tidy hahahaha

This is DIY :D
This is DIY 😀
Kotak Kado Istimewa
Kotak Kado Istimewa
Diposkan pada Catatan

Chaplin on Modern Times (1936) – Selingan Kala di Busway

Curcol sedikit mengenai kegiatan dua hari belakangan ini. Karena Jakarta mulai diguyur hujan, kegiatan berangkat – pulang kantor menjadi rutinitas yang semakin melelahkan. Macet semakin parah dan Busway pun semakin lelet (Oops!). Agar tidak merasa bosan, terpikirlah untuk mendownload film – film lucu dalam format Mp4 (agar bisa ditonton di ponsel). Dan tiba – tiba dapat ilham pengen nonton filmnya Charlie Chaplin. Selama ini saya hanya tahu selintas mengenai sosok ini. Sosok yang mengingatkanku pada sang Führer (Kanselir Jerman yang juga pemimpin Partai Nazi), Adolf Hitler. Terlepas dari kontroversi bahwa Chaplin seorang komunis atau tidak, ia benar – benar layak disebut seorang Master dan mendapat gelar  Knight Commander of the British Empire (KBE) dari Ratu Elizabeth II  jika dilihat dari perannya dalam membentuk sosok “The Tramp“, seorang gelandangan dengan topi serta kumis ikoniknya yang menjadi karakter utama dalam film – film hasil karyanya.

Wah, kesannya saya terlalu berlebihan menilai sosok Charlie Chaplin ini sementara saya masih hanya menonton dua judul saja. Karena benar film Modern Times dan A Dog’s Life membuatku susah Move On, hadeuh..hadeuh…

Kisah pertama nih ya dalam Modern Times, Tramp bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik penghasil roda gerinda. Pekerjaannnya yang monoton membuatnya stress hingga ia terpaksa dilarikan ke rumah sakit jiwa dan harus menerima kenyataan pahit bahwa ia dibuang dari perusahaan tempat ia bekerja. Sekeluarnya ia dari rumah sakit, tanpa ia ketahui pada saat ia memungut sebuah bendera yang terjatuh dari sebuah mobil bak terbuka dan melambai – lambaikannya ke arah mobil tersebut, serombongan demonstran mengikutinya dari arah belakang. Dikira sebagai pemimpin para demonstran, ia ditangkap dan dipenjara. Nah, pada saat dipenjara ia menyelamatkan para opsir  yang hendak ditembak oleh  orang yang hendak melepaskan salah satu tahanan. Sejak itu sel tempat ia ditahan difasilitasi dan dibuat menjadi senyaman di rumah sebagai ungkapan terimakasih (jadi ingat sel tahanan Artalyta Suryani alias Ayin) 😉

Chaplin on Jail
‘The Tramp’ Chaplin nyaman di dalam selnya

Kisah berlanjut saat ia diberikan Grasi (penghapusan hukuman) oleh Presiden serta sebuah surat rekomendasi dari Sheriff yang akan memudahkannya mendapatkan pekerjaan.

Surat Rekomendasi Sheriff
Surat Rekomendasi Sheriff

Dengan menunjukkan surat tersebut, ia mendapatkan pekerjaan di sebuah proyek membangun kapal. Namun, harus kembali dipecat karena kapal yang sedang dibangun ‘ditenggelamkan’ oleh Tramp. Dalam usahanya yang ingin kembali ke penjara (sel tahanannya nyaman sih!), ia bertemu dengan seorang wanita yatim piatu, miskin dan sendiri. Tak disangka Tramp yang menyelamatkannya berulang kali menjadi awal kebersamaan mereka. Ditengah kejaran polisi (saya heran polisi selalu muncul atau lebih tepatnya Tramp selalu berurusan dengan Polisi keamanan), mereka melihat sebuah rumah mewah yang dihuni pasutri bahagia. Tramp kemudian berjanji akan membangun rumah kecil dan nyaman bagi mereka berdua kelak.

Screenshot_2015-01-24-13-03-16
Tramp melepaskan kayu penyangga kapal sehingga kapal meluncur dan tenggelam

Screenshot_2015-01-24-13-21-11

Untuk mewujudkan janjinya membangun rumah mereka berdua ia bekerja di sebuah mall kala itu. Dan sama seperti pekerjaannya terdahulu ia dipecat karena membiarkan gerombolan perampok (salah satu diantaranya adalah teman satu kerjanya terdahulu yang menjadi pengangguran karena perusahaan tempat mereka bekerja ditutup) menjarah barang – barang disana.

Tramp harus mencari pekerjaan baru lagi. Dilain waktu, si wanita sudah diterima bekerja sebagai penari di sebuah Cafee dan kemudian mengajak Tramp bekerja bersamanya di Cafee tersebut setelah ia sekali lagi dipecat dari pekerjaannya di Jetson Mills. Ternyata pekerjaan baru Tramp, sebagai badut penghibur di Cafee mendapat sambutan hangat dari penonton sampai si Owner memberikan ia pekerjaan tetap.

Mungkin belum nasib, dimasa kejayaannya si wanita justru harus melarikan diri dari kejaran aparat yang bertugas menangkap para anak yatim piatu gitu. Mau tak mau, pekerjaan di Cafee harus mereka tinggalkan dan berlari sejauh mungkin dari kejaran. Dan finally, tiba di ending cerita (bagian yang sangat aku suka 😀 ).

Setelah selamat dari kejaran petugas, si wanita menangis lantas mengatakan “What the use of trying” (Oh… I know how you feel it too). Setelah penderitaan yang tiada habis – habisnya

Screenshot_2015-01-24-13-57-55

Screenshot_2015-01-24-08-32-43

Tramp justru menguatkan si wanita tersebut dan mengatakan;

Screenshot_2015-01-24-13-58-14Screenshot_2015-01-24-08-33-28

Screenshot_2015-01-24-08-33-57
“Wait..wait… don’t forget to smile”, begitulah kira – kira yang dikatakan Tramp

Itu baru cerita di film pertama yang saya tonton (durasinya 1:22:44). Panjang ya… saya saja sampai belum mandi dari pagi tadi ditambah rendaman cucian yang saya cuekin dulu untuk melanjutkan tulisan ini. Nah, lanjut ke cerita short movienya A Dog’s Life. Sesingkat ceritanya, sesingkat itu pula yang akan aku ceritakan.

Ceritanya ya si gelandangan Tramp terbangun di suatu pagi dan mencium aroma lezat dari kepulan uap makanan. Ternyata si penjual tersebut tepat berada di sebelahnya dan hanya dibatasi pagar kayu yang bolong. Kumat dah si Tramp dan mencuri makanan itu. Seorang polisi yang kebetulan berkeliling melihatnya,  polisi itu mencoba menangkapnya dan disinilah muncullah kekonyolan – kekonyolan lainnya. Ia berlari dari kejaran polisi hingga sampai di kota. Saat matanya tertumbuk pada sebuah pengumuman lowongan kerja, ia bergegas memasuki gedung dan mengikuti antrian. Tapi sayangnya ia tidak mendapat kesempatan. Ditengah jalan ia menemukan seekor anjing yang tengah dikeroyok anjing – anjing besar jalanan. Tramp menyelamatkan anjing malang itu dan menjadi partner in crime.

Screenshot_2015-01-24-08-38-13

Screenshot_2015-01-24-08-40-50
Si anjing kecil mencuri sosis dan Tramp mencuri roti 😀

Screenshot_2015-01-24-08-40-09

Siapa sangka ternyata si anjing kecil ini justru memberikan keberuntungan kepada Tramp. Ia menemukan dompet hasil copet yang sengaja dikubur oleh ‘yang bukan pemiliknya’. Dari hasil temuannya, Tramp membeli tanah dan membangun rumah dengan seorang isteri yang dia temui dulu di Cafe (seorang penyanyi Cafe yang tidak mendapat bayaran). Inilah yang dinamakan “Dreams Come True” 🙂

Screenshot_2015-01-24-08-42-47Screenshot_2015-01-24-08-43-30

Screenshot_2015-01-24-08-44-53Screenshot_2015-01-24-08-46-09Screenshot_2015-01-24-08-46-33

Pesan moralnya? Banyakkk…. Intinya, apapun masalahmu tetaplah tersenyum dan jangan menyerah. Berbuat baiklah dan kamu akan menemukan keberuntunganmu. (Wah, Om Mario Banget nih!)

Langsung saja ya, kalau mau nonton download disini saja link Modern Times dan link A Dog’s Life

 

^^

Diposkan pada Catatan

Remember This

Aku harus menuliskannya. Seperti sebuah garis tebal hitam yang melingkari tanggal kau putus dengan kekasihmu. Hari dimana kau ingin melupakannya namun kau putuskan tidak karena kau sadar sebagian hal yang kau anggap berharga telah pergi. DAN AKU HARUS MENULISKANNYA.

Sebuah transisi, titik balik atau apa pun namanya yang membuat jalan pikiranku berubah dan aku merasa ada saatnya untuk mendengarkan hatiku, kali ini. Dan pantas untuk kutuliskan untuk mengingatkan aku pada sosokku kala ini. Sudah saatnya…

Walau nanti ketika aku melihat ke belakang akan ada beribu penyesalan tapi itu adalah jalan yang ku pilih. Dengan segala konsekuensi, aku harus siap menjalaninya. Aku tidak ingin menyalahkan diriku saat ini untuk 5 tahun ke depan. Tidak. Aku sudah memutuskannya.

Jika ia untukku, ia akan datang dengan wujud yang lain, dengan kemasan yang berbeda. Mungkin lebih baik dan mungkin juga lebih buruk, aku siap.

Di Jakarta dan bukan (yang seharusnya) di Medan, 16 Desember 2014

 

 

 

Diposkan pada Catatan

To My Dearest Self

DSC_0157[1]
Menambah satu buku yang telah aku baca di deretan buku lama lainnya adalah salah satu hal yang kusuka
Wah, ternyata sudah cukup lama aku tidak menulis apa pun sejak postingan terakhirku. Dan menulis kembali adalah salah satu terapi mental yang kubutuhkan saat ini dan perlu juga untuk kamu coba tentunya. Akhir –akhir ini aku disibukkan dengan dokumen – dokumen, keluhan – keluhan dari store dan tekanan – tekanan pekerjaan yang semuanya membutuhkan kecepatan tingkat dewa. Bahkan Shinkansen saja masih kalah cepat :

Oke, maksudku ini adalah Desember, lupakan mengenai pekerjaan karena ini Desember. Natal dan Tahun Baru, liburan menanti. Tapi berita buruknya ditempatku bekerja sekarang hanya libur pada tanggal merah saja, harpitnas. Padahal jauh – jauh hari aku sudah mencari lokasi liburan yang kira – kira seru dan menantang serta dengan biaya yang murah. Awalnya ingin ke Karimun Jawa namun batal karena menurut salah satu blogger yang pernah melakukan perjalanan kesana beberapa kali, disarankan mengunjungi pada musim – musim panas bukan musim penghujan seperti sekarang ini. Kalau musim – musim seperti ini aku malah jadi ingin mencoba Rafting lagi -Ngarep Mode on-. Atau mengunjungi Anak Gunung Krakatau dan snorkeling serta menikmati keindahan pantai –pantai di pulau – pulau kecil disekitarnya. Huft… ada begitu banyak rencana.

IMG_20141004_170528[1]
Beristirahat sejenak di Killiney Kopitiam ditemani buku baru yang langsung menarik perhatianku dengan resensinya yang menarik
Tapi tahu tidak hal ini cukup membantu membangkitkan semangat kerja, maksudku bagian dimana merencanakan liburan itu. Yah, tadinya aku tidak ingin mengeluhkan masalah kerja dan membicarakannya, namun sepertinya moodku lagi bagus menuliskan hal ini. Karena sejak bekerja di tempatku yang sekarang, aku kembali menemukan hobbyku yang sudah lama hilang yaitu membaca. Bayangkan,  dalam 1 bulan aku sudah melahap 3 novel dengan rata- rata berjumlah 400 halaman. Bagaimana caranya? 1,5 jam jarak yang kutempuh berangkat kerja dan 2 jam perjalanan pulang. Bukan karena jaraknya yang berkilo – kilo meter tapi parahnya kemacetan lalin di Jakarta ini.

Dan kunjungan ke Toko Buku pada awal bulan langsung menempati deretan pertama dalam list “Apa yang akan kulakukan setelah gajian”.  Killiney Kopitiam, satu –  satunya tempat yang asyik buat nongkrong menjadi pilihanku melepas rasa lelah sejenak setelah memutari barisan – barisan buku dengan sampul – sampul yang dirancang semenarik mungkin. Jauh di dalam benakku, suatu hari bukuku akan berada di deretan itu juga.

DSC_0118[1]
Sekali – kali menikmati makanan yang aku suka walau tidak sehat tidak ada salahnya 😀
 Masih seputar kerja, aku mulai belajar menghargai diriku sendiri. Semakin aku disibukkan dengan pekerjaan, semakin aku menyayangi diriku. Aku mulai melatih diriku untuk  sarapan dan makan siang tepat waktu. Setumpuk pekerjaan menantiku dan aku harus membekali tubuhku dengan asupan makanan yang dibutuhkan agar dapat menyelesaikannya. Mendengarkan lagu – lagu kesukaanku, membeli tas baru dengan harganya yang setara dengan biaya bulananku sewaktu kuliah dulu, botol minuman 1,5 liter selalu terisi penuh dan bisa kupastikan selalu kosong sebelum aku pulang, tidur dengan jam yang teratur (kecuali malam aku menghabiskan waktuku menyelesaikan tulisan ini) serta komunikasi dengan keluarga yang tidak putus.

Sangat menyenangkan mengetahui bahwa aku masih mempedulikan diriku sendiri. Because I’m worthy.

Karena begitu banyak hari – hari yang kulewati dengan mengutuki diriku sendiri karena kesalahan kecil (yang terkadang kuanggap besar), tidak bersahabat (dengan diriku sendiri) dan terlalu kejam menilai diriku bodoh.

Ah, aku benar – benar menikmati saat – saat aku berdamai denganku. Aku harusnya lebih sering melakukan apa yang kusuka untuk menyenangkannya 🙂

xxx To my dearest self _D xxx

 

 

Diposkan pada Catatan

Bahagia Ku Mengenalmu!

Dear my friends and my best friends,

Mauliate godang* untuk tetap berbagi bersama di usiaku yang baru ini. Big thanks, big hug and big love to all of you. Hahaha, saya mulai melebai. But really, I do appreciate untuk doa – doa dari kalian semua dan kue, waktu serta traktiran (Jiah yang ulang tahun siapa… ). Sekarang saya berusia 2* 😀

Thanks God, aku bersyukur dapat mengenal kalian semua. Aku bersyukur menjadi teman kalian dan aku juga bersyukur menjadi salah satu orang yang kalian kenal dan ingat. Seperti yang dimuat dibuku Titik Nol’nya Agustinus Wibowo, aku belajar bahwa orang datang dan pergi silih berganti dalam hidup kita. Di hidup ini, kita diibaratkan sedang berada di tengah perjalanan menuju tujuan hidup masing – masing. Dimana kita akan selalu menjumpai beberapa jenis teman saat diperjalanan seperti; teman yang dapat saling berbagi, teman yang mengajarkan kamu banyak hal akan arti hidup dan teman yang hanya say “Hi!” dan segera berlalu. Apapun jenis teman yang kamu miliki dan kumiliki pada dasarnya kita adalah makhluk yang sendiri. Kita dalam sebuah perjalanan yang harus melanjutkan perjalanannya kembali dan berpisah saat tiba dipersimpangan.

Entah beberapa bulan atau tahun ke depan kita akan berpisah tapi kalian tetap yang terbaik. Dan aku bersyukur dapat merasakan saat kebersamaan seperti saat ini bersama kalian. Hiks, kok jadi seperti kata perpisahan? Nope, nope… ini hanya ungkapan kebahagiaanku dan rasa terimakasihku semata 😀

Surprise!
Surprise!
Selfie on my birthday. Thanks traktirannya Chinggu!!
Selfie on my birthday. Thanks traktirannya Chinggu!!

Maklum saya tipikal yang lebih baik dan bagus mengungkapkannya dengan tulisan ketimbang mengungkapkannya secara langsung. Dan tahu tidak, saat menuliskan ini aku kembali teringat pada teman – teman mulai dari zaman sekolah dulu (tahun 1990an) sampai zaman kuliah (2000an) yang sampai saat ini masih kusimpan beberapa fotonya. Aduh! Baru nyadar ternyata aku sudah setua ini. Salah satu efek bertambahnya usia yah seperti ini nih, jadi suka flash back ke belakang. Dan ternyata kenangan bersama teman itu begitu indah (alah, puitis lagi :p)

Tapi memang benar loh, jika selesai membaca tulisanku ini kamu ingin kembali ke masa – masa zaman sekolah atau kuliah dulu atau bahkan cepat – cepat ambil laptop atau album foto zaman dulu, berarti kamu memiliki kenangan yang cukup indah bersama teman lamamu, hehehe…

Zaman SD nih, waktu ikut tari Simalungun di Pentas Seni Siswa dulu. Unyu-unyu kan? hahaha
Zaman SD nih, waktu ikut tari Simalungun di Pentas Seni Siswa dulu. Unyu-unyu kan? hahaha
Surprise di ultah ke 13 :)
Surprise di ultah ke 13 🙂
1 kata untuk SMA yah, I'm lucky enough to have such beautiful memories
1 kata untuk SMA yah, I’m lucky enough to have such beautiful memories
Walau hanya 4 tahun dan berasal dari daerah yang berbeda tapi Bhineka Tunggal Ika'lah
Walau hanya 4 tahun dan berasal dari daerah yang berbeda tapi Bhineka Tunggal Ika’lah
Bedanya teman dengan sahabat adalah ada beberapa hal yang dapat kamu ceritakan kepada sahabat yang tidak dapat kamu ceritakan kepada seorang teman :)
Bedanya teman dengan sahabat adalah ada beberapa hal yang dapat kamu ceritakan kepada sahabat yang tidak dapat kamu ceritakan kepada seorang teman 🙂

 

Jadi, it’s so true… Milikilah teman sebanyak mungkin karena akan banyak hal juga yang dapat kamu bagikan kelak ke anak cucumu. Friend is a place to share and care not for benefit, rite? From them you learn how to keep smile while you are having problems, when you take from them you learn how to give more and they will be always for you although it’s just memories, memories that could make you smile while thinking of it 🙂

 

*Mauliate godang (Bahasa Batak Toba) yang artinya terimakasih banyak

Aku tidak tahu akan apa yang kuhadapi

Sudahkah aku mengambil keputusan yang tepat?

Bagaimana jika aku salah?

Seakan hatiku menjawab, “Sudahlah… Toh berani adalah pilihan yang patut diacungi jempol. Hentikan kekhawatiranmu dan tetap berusaha”

Seorangpun tidak akan ada yang tahu masa depannya,

Bahkan jika kamu merasa telah mengambil keputusan yang tepat, bukan berarti kamu tidak memiliki kekhawatiran

Oleh sebab itu, berhentilah khawatir, tetap berusaha dan serahkan selebihnya kepada Tuhanmu

Jangan Khawatir

Diposkan pada Catatan

Don’t Judge Me

Ini benar terjadi di lingkunganku. Mungkin bukan hanya di tempatku saja, mungkin juga di tempatmu. Atau mungkin kamu salah satu diantaranya yang merasa di judge oleh orang yang tidak mengenalmu sekalipun. Alasan mengapa aku ingin membicarakan ini karena seorang gadis SMA yang tidak bisa kusebutkan namanya dan kita sebut saja dia Mawar. Petang itu, Mawar datang bermain ke tempat kami. Seperti biasa dengan stylenya ala anak Alay plus make up tebal ala penganten (Aku mengatakan yang sebenarnya loh!) dia penuh percaya diri. Tiba – tiba seseorang mengomentari penampilan Mawar. Baiklah akan kukatakan bagaimana penampilannya saat itu. Dia mengenakan baju dengan rompi out of style yang membuat badannya makin terlihat berisi (Karena model pakaian tumpuk sangat tidak sesuai dengan tubuh gemuk – setidaknya itu yang dikatakan majalah fashion yang kubaca-) dan celana skinny jeans dengan warna kontras dari warna kulitnya (hijau stabilo dengan warna kulit hitam). Dia juga mengenakan head band di kening warna hitam merah. Make upnya? Kamu bahkan tidak bisa tidak berkomentar jika melihatnya. Dan tidak ketinggalan kacamata yang lagi in saat ini. Tapi itulah dia. Dia percaya diri pada penampilannya. Dan kamu harus tahu bahwa percaya diri tidak datang dengan sendirinya, karena terkadang kamu harus jungkir balik dulu baru bisa percaya diri (jika kamu tahu apa maksudku). Intinya, aku kagum pada seseorang yang memiliki kepercayaan diri.
Then-Dont-Judge-Me

Nah,kembali pada si komentator tadi. Aku tidak tahu apa yang dia katakan sehingga Mawar meledak amarahnya. Lalu ditengah rasa marahnya dia mengatakan, “Kata mama, siapapun itu jika ada yang mengganggumu lawan saja dan jangan takut. Gak pernah kuganggu dia tapi kenapa digangguin aku…” Lalu apa yang dia katakan tidak perlu kutuliskan karena terlalu banyak yang harus disensor. Dan seseorang yang tadi mengomentari Mawar menghampirinya. Dia mengatakan bahwa dia juga seringkali dikomentari orang bahkan lebih pedas dari yang dia katakan tapi ia tidak pernah melawan. Karena dia menghormati orang yang lebih tua darinya. Dengan kata lain, ia menginginkan Mawar untuk berdiam diri mendengar segala komentar pedasnya karena ia lebih tua. Nah loh??

Jujur, aku suka berkomentar tapi aku tidak suka dikomentari. Kenapa aku mengomentari? Alasannya hanya karena aku ingin dan sebagian lagi karena aku cemburu. Bisa dibilang aku tidak terlalu berhasil di lingkungan sosial karena aku terlalu memikirkan perkataan dan anggapan orang tentangku. Walau aku tahu mereka hanya memuaskan keinginannya saja tapi bagiku itu sebuah kritikan tajam. Sama seperti Mawar tadi. Dia hanya ingin menjadi dirinya sendiri walau mungkin orang lain tidak menyukainya. Kita sah – sah saja berkomentar. Toh, dalam Undang – Undang Dasar 45 jelas dikatakan bahwa hak setiap orang mengeluarkan pendapat. Tetapi terkadang, tanpa disadari kita terlalu jauh melangkah. Komentar yang diberikan hanya memuaskan keinginan kita saja tanpa memikirkan perasaan orang tersebut. Dengan mengomentari orang lain kita merasa superb.

Seperti yang terjadi denganku juga, orang – orang kerap kali menanyakan kenapa tidak bekerja lagi, kenapa belum merantau dan kenapa – kenapa lainnya. Dibalik kenapa – kenapa itu berkembanglah komentar dan simpulan – simpulan yang mereka buat sendiri. Atau seberapa sering kamu mendengar, “belajar sih belajar, tapi kapan pintarnya?”, “Kalau si Dwik mah gak bisa…”, “Emang bisa mbak?” kuharap tak sesering yang kudengar. Komentar – komentar sinis seperti ini dapat mematahkan semangatmu tapi dapat juga membangkitkannya. Terkadang aku membenci mereka yang menyepelekanku. Wajar toh, malah yang tidak wajar saat kita mendengar komentar itu dan diam – diam menanamkannya dalam hati dan mulai mempercayainya. Ketika hal itu terjadi, tujuan orang yang mengomentarimu akhirnya tercapai. Satu hal yang kusuka dari cerita si Mawar, ia tidak terlalu mempedulikan perkataan orang. Dia merasa nyaman dengan penampilannya (efek pubertas) walau banyak orang mengomentarinya. Tapi dengan begitu ia dapat mengeksplorasi dan mengekspresikan dirinya. Sementara aku tidak bisa secuek Mawar.

Mungkin seiring dengan bertambahnya usia, aku mulai bisa menerima komentar – komentar orang disekelilingku dengan lapang dada. Dulu aku hanya mengutuki kenapa harus ada mereka tapi sekarang aku tahu seperti itulah kehidupan sosial. Aku tidak bisa menghentikan orang berkomentar tentangku tapi aku bisa membuktikan bahwa mereka salah menilaiku. Sepertinya aku mulai sedikit tumbuh dewasa  . Dan aku harap Mawar juga dapat tumbuh dewasa. Daripada bertengkar karena tanggapan orang mengenai diri kita, mengacuhkannya hanya akan menutupi kesakithatianmu untuk sementara tetapi dengan berfikir positif membantumu untuk terus maju.

Diposkan pada Catatan

PUCO

Waktu Puco pergi diusianya yang 10 tahun, dalam perhitungan usia manusia ia kira – kira sudah 70 tahun (1 tahun usia manusia = 7 tahun usia anjing). Lantas muncul pertanyaan dalam benakku, mengapa mereka tidak  diberikan cukup banyak waktu? Di suatu pagi dalam saat teduhku, bahan renungan di pagi itu berbicara mengenai memanfaatkan waktu dalam hidup. Ada seekor anjing yang harus disuntik mati (Euthanasia) karena penyakitnya. Bocah kecil si empunya anjing mengatakan ditengah rasa kehilangannya “Saya tahu mengapa?” Seakan turut menjawab  pertanyaanku, “Manusia dilahirkan agar mereka dapat belajar, bagaimana hidup di dalam kehidupan yang baik, seperti mencintai setiap orang dalam setiap waktu dan menjadi orang baik. Benar? Tetapi, para anjing sudah mengetahui bagaimana cara melakukan hal tersebut, jadi mereka tidak harus tinggal terlalu lama di dunia”.

Hewan peliharaan apapun  jenisnya, baik itu anjing ataupun kucing (pada umumnya) tanpa kita sadari mengajarkan kita cara untuk berbagi, bertanggung jawab dan menyayangi. Aku ingat pertama kali punya anjing peliharaan. Namanya Riting. Namun, ia tidak bertahan lama karena sakit yang kami tidak tahu apa. Aku masih  ingat detik – detik ia menghembuskan  nafasnya. Anehnya ada banyak semut merah yang mencoba menggerogoti tubuhnya. Aku dan kakakku sebisa mungkin berusaha menyingkirkannya, aku ingin melihat ia mati  dengan baik bukan dengan seperti itu.

Lama sejak saat itu, akhirnya ada juga yang menggantikanya. Warnanya hampir sama dan kami menamainya dengan nama yang sama juga. Sebut saja ia Riting II, ia anjing yang tergolong pintar untuk anjing jenis kampung. Ia bukan anjing ras namun, bentuk tubuhnya dan bulunya menunjukkan indukannya bukanlah jenis biasa. Dari dialah lahir Puco. Jika dirunut ke belakang sudah banyak anak – anak anjing yang ia lahirkan tapi hanya Puco yang tetap bertahan. Sedangkan yang lainnya ada yang dijual dan diberikan kepada saudara. Satu hal yang paling kuingat dari Riting II, ia sangat pintar. Saking pintarnya ia tidak ingin diperlakukan seperti jenisnya (nah loh… ). Jangan coba – coba dekati ia jika tidak ingin digigit, paling sensitif dan tidak suka diperintah. Mungkin ada juga pengaruh dari namanya (Riting dalam bahasa Indonesia artinya cerewet). Walau demikian ia peliharaan yang setia, ia selalu menemani mama di pagi hari buka kios atau siapapun itu diantara kami yang  hendak ke kios. Rasanya seperti ada bodyguard yang mengawal kita saat berjalan. Ia akan menunggu sampai malam hari dan pulang kembali bersama kami.

Berbeda dengan sifat Riting II, Puco jauh lebih baik dan mudah mengerti. Saat aku mengajaknya bicara ia seakan mengerti apa yang kita katakan. Entahlah, mungkin bukan hanya aku saja yang merasakan ikatan dengan hewan peliharaan sendiri. Tapi dengan Puco, aku merasa ada seorang teman yang selalu mendengar dan tidak pernah menyakitiku. Teman yang tidak  akan memotong omonganmu  dengan ceritanya tapi cukup mendengar saja. Kau juga tidak perlu berpura – pura di depannya karena ia akan menerimamu apa adanya.

Aku masih ingat saat aku melakukan salah dan mama memarahiku. Dalam fikiran seorang anak kelas VI, aku ingin lari dari rumah tapi urung kulakukan. Aku tidak cukup banyak keberanian melakukannya apalagi di malam hari seperti saat itu. Lantas aku duduk di teras dengan meratapi nasib 😀 Saat itu, aku tidak ingin menangis, tapi semakin aku menahannya semakin banjirlah air mata. HAhAHA . Puco tiba – tiba duduk disamping kiriku (ia selalu di teras karena tidak diperbolehkan masuk rumah). Merasa mendapat teman di kala susah, aku sedikit tersenyum memandanginya. Aku menariknya supaya dekat denganku dan memeluknya. Lagi aku menangis. Hahaha, jika aku membayangkan saat itu rasanya seperti di sinetron Indonesia saja. Apalagi saat itu hujan sedang turun, semakin menambah kesan dramatis. Tapi pada intinya, disaat aku sedang sedih ia mampu menghiburku. Ia selalu ada saat aku kena marah mama, berantam dengan saudara dan saat aku bosan :D. Satu hari tidak menciumnya, rasanya seperti ada yang kurang hahahaha…

13 Agustus 2011, kudengar  kabar dari kakak bahwa Puco sudah mati. Saat itu aku ada di Siantar sedang dalam Program Pengamalan Lapangan (PPL). Yah, walau tidak sedramatis film Hachiko tapi aku merasa sedih juga saat tahu bahwa ia sudah tidak ada. Di saat jauh sedihnya belum terasa, tapi di saat pulang ke rumah langsung terasa kehilangan. Sejak saat itu, ada beberapa anak anjing diangkat menjadi penggantinya. Tetapi tidak bertahan lama juga. Entah itu karena diambil balik pemiliknya 😀 dan ada juga karena ditabrak 😥

Pernah satu kali saat belanja di Sambu, pusat baju import 😀 (satu istilah untuk tempat jual pakaian bekas di Kota Medan), aku melihat sebuah boneka anjing. Pertama melihatnya, aku langsung ingat Puco. Senang juga ada boneka yang rada – rada mirip binatang peliharaan kita. Tawar – ditawar akhirnya jatuh juga boneka itu ditanganku. Dengan harga Rp.5.000 saja aku bisa mengenang Puco lagi  J Selain warnanya yang Putih Coklat sama (sesuai dengan namanya Puco), boneka itu juga memiliki mata yang besar mirip dengan Puco. Sayang tidak ada boneka yang mirip  dengan Riting juga.

Puco & its twin

Yah, hewan  peliharaan memang terdengar sangat kasar bagi seorang sahabat yang tidak bisa berbicara ini. Mereka tidak punya Animal Rights (Hak Kebinatangan) dan kadang  diperlakukan semena – mena  oleh pemiliknya. Tidak usah jauh – jauh, dilingkungan tempatku tinggal anjing dan kucing dijadikan makanan 😥 . Dan bukan hanya di wilayah Sumatera Utara saja, tapi di wilayah Indonesia lainnya, anjing malah terang – terangan diperjual – belikan untuk dimakan dagingnya. Sedih dan miris rasanya…

Semoga kita dapat  belajar dari sahabat – sahabat kita yang tidak bisa berbicara ini. Karena mereka telah memberikan kita banyak pelajaran, they are more than just animal.

Diposkan pada Catatan

Diskriminan atau Tuntutan?

Tuhan menciptakan kita sederajad. Manusia membuat kelas – kelasnya. Di mata Tuhan kita sama tetapi tidak di mata sesama kita. Bukankah itu tidak adil? Memang tidak adil karena manusia bukanlah Tuhan. Dan kita hidup di dunia bukan di sorga.

Hehehe, kali ini aku sedikit berfilosofis. Karena aku ingat percakapan tadi pagi dengan teman sekantor mengenai pekerjaan. “Yah, sekarang dimana – mana selalu ada diskriminasi”, kata teman tersebut. Setuju juga dengan pendapat teman tersebut karena setelah melihat nyatanya memang diskriminasi dan pengkotak – kotakan itu jelas adanya. Terkadang kualifikasi – kualifikasi yang diminta membuatku harus gigit jari. Misalnya nih, kualifikasinya harus memiliki tinggi badan min. 160 cm, nah kan lucu. Masakan hanya posisi sebagai Admin di butuhkan tinggi badan tertentu, apa hubungannya coba? Terlalu jelas diskriminasinya. Walau ada begitu banyak yang memiliki potensi, namun akan langsung mundur dengan melihat kualifikasi seperti itu hanya karena tinggi badan yang tidak memadai. Kalau saja tinggi badan bisa didapat dari kursus tambahan dan seminar pelatihan, maka satu pun tak akan kulewatkan. Ada lagi nih perlakuan diskriminatif dalam pekerjaan yang terjadi sejak mulai penerimaan, berupa pengumuman penerimaan kerja atau lowongan kerja, seperti mencari tenaga kerja wanita yang belum menikah, siap tidak menikah selama dalam kontrak atau pada waktu tertentu, penampilan menarik (dengan paras cantik, tubuh bohay dan tinggi semampai), dan sebagainya.

Men are better than Women!

Nah susahkan? Diskriminasinya cenderung kepada para kaum Hawa. Makhluk terlemah dari segala kaum :D. Yah mungkin begitulah adanya, karena dalam pekerjaan dituntut totalitas kerja. Sementara karena asumsi wanita tadi, kemungkinan dibuatlah kualifikasi yang diskriminan tersebut.

Sempat menyerah juga dengan keadaan. Kekuranganku membuat hari – hari semakin galau. Alhasil muncullah rasa kurang pede (salah satu musuh terbesar nih :D). Tapi toh Life Must Go On… Tuhan sudah menciptakanku dengan tujuan dan makasud tertentu. Tak sepantasnya juga untuk menyesalinya karena jika disadari, ada maksud – maksud tersembunyi dari itu semua. Untuk apapun pekerjaan yang dijalani saat ini, jalanilah dengan sepenuh hati. Tidak peduli dengan tanggapan orang karena yang terpenting bagaimana cara kita memaksimalisasikan diri dalam pekerjaan apapun yang kita jalani. Walau tidak dapat bekerja di profesi yang aku idam – idamkan karena keterbatasan tertentu, bukan berarti pekerjaan saat ini dijalankan setengah hati. Siapa yang bisa menduga hal – hal diluar daripada yang kita inginkan justru meningkatkan kemampuanyang kita tidak sadari.
Walau jujur, masih ada rasa kesal melihat segala bentuk kuualifikasi – kualifikasi yang diberikan para perusahaan – perusahaan dalam merekrut karyawannya, tetap saja tidak akan mengubah keadaan. Hanya dimata Tuhan kita sama, di mata yang lainnya tetap saja beda.