Almost a year right? I can’t see you and hear your voice on a call. You know I really miss you right now. What are you doing now? Are you still watching on me? Have you already met God and sat beside Him? I hope so… I always pray someday we’ll get together again.

Dad, I wanna go home, meet mom and all brothers and sister, but you know I still hard just to tell you hmm…I don’t have enough saving this month. Hasil gambar untuk Icon Malu But I already have planned it since two months ago, I think I should tell you this. May 15, I want to see your tomb. It’s too hard to move on from you… Everybody said time can erase the lose and pain, but a year is too fast for me. I know in your life we always in a different point of view. But it’s better than nothing, I realize…

I always got mad when you were still drinking so much and didn’t give attention on us. I’m glad now you aren’t able to drink alot again, except God give it to you  Hasil gambar untuk Icon tertawa

Ahhh, I miss you…. There’s a song tells a child who miss his father and want him to come to the child’s dream. I want you to come to my dream too, since you’re gone you only came once to my dream. Hmm it looks you were a little bit busy out there hehehe..

Good night Dad… I’m sorry for every Good night I can’t speak to… And lots of thing I can’t give to you… Don’t be sad, just let me a night with this tears. I promise I’ll be strong day by day…

I miss you.

 

With love

Your youngest daughter

 

Hi Dad, How are you there?

Diposkan pada Story

Aku Rindu

Hah, rinduku menumpuk, hasratku memelukmu tak sampai, aku ingin menciummu, menangis dipelukmu, tidur disampingmu…

Sekali saja katakan kau rindu padaku juga. Sekali saja berceritalah padaku. Telepon aku, tanyakan kabarku. “Bagaimana harimu nak?”

Sesakit inikah Kasih dalam diam?

Dengarlah ceritaku, katakanlah aku akan baik-baik saja dan kau juga baik-baik saja disana. Katakanlah kau ingin melihatku pulang, katakanlah bahwa kau rindu padaku.

Tidakkah kau rindu dengan suapan nasi dari tanganku?
Tidakkah kau rindu dengan pijatan tangan amatirku dikakimu?
Katakanlah.. Dan aku akan pulang, menemuimu, hanya untukmu.

Sungguh aku merindumu,
jika aku tidak bisa menyentuh wajahmu setidaknya biarlah aku mendengar suaramu. Hingga hilanglah sesak dihati ini dan nyatalah kasih ini berbalas…

Diposkan pada Story

Happy Birthday, Dear You My Strength

I count again

Time? No one knows how long our rest of time
Even Her time
Don’t ever try to ask me to release, because all of her time not on me or you but Him

People always tell me, try to release…
But my question is what I supposed to release?

They say, “What is she waiting for?”
“Ooh, this is more than just enough for her to fight”
“Release, please release her…”. Said them, not once, twice, countless…
Behind me or right on my face

But unfortunately they don’t know who you are Mom
Your feet, has been walking through the day and night, rain and tears, thousands mile..
how can they say it is so thin and weak? With the same feet you carried me. They wrong yes, they wrong

Look at your hair, bushy and curly like me. There is no gray hair not like other woman in your age.

Your eyes, you have myopia because you loved to embroider.
They think useless wearing you eyeglasses.
For this I agree, because deep in your mind Mom, there is still me.
You don’t need to see me just remember me please…

Your hands, I laugh when they say you are too sick…
I remember your tightly hand was holding me that night when I slept next to you.
A sick person isn’t able to do that.

You are still the same Mom like I was in 6 and 20s.
Who was angry at me when I got caught bedwetting by you or lately home
I have no idea why they see you now so different
When I still see the same hope in your smile, a pray in your eyes and love in your spirit, all of it in a perfect package, never ever change,
You are Mom.

You have taught me to love more like you, living with a strong heart and dignity.
From you too I’ve learnt only Love can make you stay

Happy Birthday Mom, please stay with us as long as you want…

 

From your youngest daughter

With huge love

DSC_0154

 

 

Diposkan pada Dear Mom

Untold

Mom & Me

That’s me and my mom

She doesn’t even know i’m kissing her or not

She’s not sleeping but her mind is

She doesn’t know her husband, her sons and her daughters

While she’s gazing you, just keep smiling

She’s not angry but she’s trying to remember who are you

For HER, everybody is a strange

For ME, that’s not fair

I know she doesn’t want it

She doesn’t want to forget us

But it comes, not suddenly but so slowly

She’s teaching me live is a struggle

If you surrender then you’ll get nothing

But if you survive you’ll get your happiness

Now, she’s still fighting for Her Happiness.

Diposkan pada Dear Mom

Alzhaimer, Parkinson atau Demensia?

“Alzhaimer, demensia dan parkinson. Diantara ketiga penyakit ini sakit apa yang diderita mama?”

“Ntahlah…”jawab kakakku. Lalu kami kembali terdiam, sibuk dengan pikiran masing – masing.

“Dan kurasa kita tidak perlu tahu “, jawabku kemudian memecahkan keheningan diantara kami. “Lagipula tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali merawatnya di sisa hidupnya, bukankah begitu?”.

“Apa kamu pikir itu jalan satu – satunya?” tanyanya padaku.

“Seharusnya kamu tidak menanyakan itu padaku. Mana aku tahu. Kita sama – sama terjebak disituasi ini. Dan aku rasa tidak ada gunanya juga untuk mengetahuisakit apa”.

“Bukankah kamu yang pertama menanyakannya padaku?” kakakku mengingatkan siapa orang yang pertama membuka topik ini. Matanya sedari tadi tidak lepas dari layar notebooknya.

“Aku hanya sedikit bingung… Di satu sisi  aku ingin mengetahuinya tapi disisi lain hatiku berontak untuk mengetahuinya. Kadangkala ketidaktahuan itu bisa membantu.”

“Dan intinya kamu memang takut mengetahui dan menghadapi faktanya”.

“Mungkin…” jawabku pahit setengah membenarkan peryataannya.

“Ikuti saja kata hatimu… Setahuku diantara ketiga penyakit itu tidak ada obatnya selain hanya perpanjangan usia. Buat dirimu senyaman mungkin dengan situasi ini”.

“Terkadang kamu bisa bijaksana juga”, pujianku tak menyurutkan niatnya untuk berhenti menatap layar. “aku kira kamu tidak akan cukup dewasa menghadapinya”, lanjutku.

“Kamu  bisa menganggapku remeh untuk permasalahan lain tapi tidak untuk mama”, dia memalingkan wajahnya dan memberikan sedikit perhatian padaku. Kuharap ketegaran yang tersirat disana tidak akan pernah hilang walau ku tahu semua beban ada padanya saat aku tidak disini.

“Hah…”,helaan nafas panjang membuatku sedikit  lebih rileks. Kepalaku seakan mau pecah memikirkan semua kemungkinan – kemungkinan yang bisa saja terjadi.

 ***

Sudah delapan tahun  berlalu, September kemarin ia genap 55 tahun. Usia yang masih terbilang  muda untuk penyakit yang pada umumnya diderita para kaum manula. Aku pernah melihat penyakit – penyakit sejenis ini dialami para gadis – gadis di drama – drama menyedihkan. Tapi itu hanya drama, yang bisa kau saksikan untuk menghibur hatimu dan menyenangkan hari-harimu yang mulai membosankan. Dan setelah itu kamu melupakannya. Jika kamu bosan dengan cepat kamu bisa mengganti channelnya. Tapi tidak ketika kamu salah satu orangnya atau bahkan orang yang kamu sayangi mengalaminya. Aku menonton drama itu sampai akhir, berharap akan ada suatu keajaiban yang bisa memulihkan penyakitnya tapi namanya drama menyedihkan endingnya tetap saja menyedihkan. Dan kini aku memainkan drama yang sama, bukan aku yang menjadi tokohnya tetapi ibuku. Dan harus kukatakan ia wanita terhebat dan terkuat yang pernah kulihat.

Jujur kukatakan tahun – tahun yang kami lewati sangatlah berat ditengah kondisi mama yang mulai menurun. Tiap kepulanganku ke rumah, aku berharap akan ada perkembangan setidaknya sedikit saja. Namun, justru sebaliknya sepanjang tahun ini aku menghitung di tiap kepulanganku ke rumah sedikit demi sedikit kondisi ibuku mulai menurun. Seperti beberapa bulam kemarin saat aku meninggalkan mama, dan beberapa minggu kemudian aku mendapati mama sudah tidak  bisa berjalan. Sebelumnya aku telah mendengar kabar  mama masuk UGD karena kejang yang ia alami. Kakakku orang pertama yang mengabariku, berbeda  dengan saudara – saudaraku yang lainnya. Selain karena aku satu – satunya teman curhat baginya, mungkin juga ia tidak sanggup menghadapi keadaan ini sendiri. Saat itu aku tidak tahu harus berbuat apa, ada bermil-mil  jarak yang memisahkan kami saat itu. Bagaimana bisa aku tidak ada di samping mama saat ia benar – benar membutuhkan seseorang tuk melewaati masa – masa sulit seperti ini.  Kutepiskan segala  pikiran buruk dan berdoa supaya semuanya baik – baik saja, tapi tetap saja tidak bisa. Fikiran – fikiran buruk mulai berputar cept di kepalaku, tak bisa kupungkiri aku membayangkan jika ia akan meninggalkan kami.  Sekali lagi aku belum siap.

Sejak kejadian itu, mama praktis tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa tidur sepanjang waktu. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk mengetahui kondisi yang sedang terjadi. Aku dengan cepat belajar memakaikannya popok dengan posisi tidur, membersihkan tubuhnya dan terutama membersihkan rambutnya. Walau sedikit berat terutama  saat ia harus keramas. Pernah suatu kali  aku menyangga kepala mama dengan tangan kiriku dan dan tangan kananku membasahi rambut ikal hitamnya dengan air di dalam ember bundar berukuran sedang. Dan akibat kelemahanku yang selalu melupakan hal-hal kecil, aku tidak ingat terakhir kali meletakkan shampoo. Dengan hati – hati aku meletakkan kepala mama di pinggir tempat tidur dengan ember berisi air kira – kira 10 centi dibawah kepalanya.  Aku berlari ke kamar mandi secepat yang kubisa dan saat aku kembali aku melihat kepala mama dalam posisi terbalik sudah berada di dalam ember. Dan untung saja airnya hanya sampai keningnya saja. Spontan aku mengangkat kepalanya dan menyangganya kembali dengan tangan kiriku. Degub jantungku tidak beraturan kala itu dan tiba – tiba mama tertawa menunjukkan kerutan – kerutan di mata dan keningnya.  Melihatnya tertawa membuatku ikut tertawa, kepanikanku hilang setelah melihat tawa itu. Aku menciumnya  gemas lalu tawaku pecah melihat kepolosannya.

Sejak saat itu aku mulai belajar untuk lebih berhati-hati mengurus mama. Rasanya seperti kau terbangun dan mendapati dirimu tiba – tiba menjadi seorang ibu. Kau harus menyingkirkan ego dan segala kepentingan pribadimu lalu memberikan perhatianmu 100 persen. Seperti sebuah hantaman keras tepat diwajahku saat aku tahu betapa sulitnya untuk memikirkan oranglain sepenuhnya dan mengesampingkan dirimu sendiri. Aku seorang anak terakhir dari empat bersaudara di Keluarga Munthe. Meskipun tidak dibesarkan dalam keluarga kaya namun, masa kecilku bisa dibilang berkecukupan. Aku  bisa mendapatkan apa yang sangat kuinginkan walau harus membujuk mama dengan tangisan dan rengekan. Setiap kali aku sakit, mama akan membelikan apapun yang aku minta. Masih jelas diingatanku saat aku duduk dibangku sekolah dasar, dimana saat itu sedang musim sepeda dikalangan anak-anak.  Yang kumaksudkan disini saat semua anak – anak memiliki sepeda baru berarti 80% teman -teman bermainmu sudah memilikinya dan akan memainkannya sampai ia bosan. Dan menunggu saat ia bosan kau harus sibuk mencari teman yang bersedia menghabiskan waktunya denganmu yang tidak punya sepeda. Dan aku orangnya tidak pernah mau ketinggalan. Saking inginnya untuk memiliki sebuah sepeda sampai – sampai aku demam dan tidak sekolah untuk beberapa hari. Saudaraku mengatakan kepada mama bahwa aku menginginkan sepeda.  Pusing dengan permintaanku, mama akhirnya membujuk bapak untuk membelikannya untukku. Padahal saat itu kondisi keuangan keluarga kami tidaklah bagus karena kami semua masih sekolah. Tapi, malamnya sebuah mobil dengan membawa sepeda berwarna orange berhenti di depan rumah nenek tak jauh dari kios kami. Aku berlari dan melihat dengan wajah puas saat sepeda itu  diturunkan. Pada hari dimana aku mendengar kabar bahwa bapak akan membelikan sepeda entah bagaimana jalannya demamku menurun. Namun, saat aku melihat sepeda yang baru diturunkan itu dan mencobanya untuk pertama kali, aku mulai kecewa karena sepeda itu terlalu tinggi bagiku. Dengan kata lain aku tidak bisa menaikinya sama sekali. Malamnya juga kembali demamku tinggi. Mama kelimpungan dan bingung harus berbuat apa sampai ia mengusulkan untuk dibeli sepeda baru. Mama selalu tahu bagaimana cara memanjakanku. Kali ini sepeda baru dibelikan dengan uang nenekku. Dan demamku makin membaik. Kedengarannya seperti mengada – ada,ntahlah, aku juga merasa itu cukup aneh setidaknya bagiku.

Diposkan pada Story

untitled

Orang yang belum mengenalnya akan beranggapan dia aneh, sakit atau asing. Dengan rambutnya yang urakan dan nyaris gimbal, dia terlihat menikmati hari – harinya ditemani gitar dan alunan yang mampu membuatmu takjub. Amat sangat disayangkan dia sakit, mungkin itu hal yang terlintas dibenak mereka yang sedang berseliweran dihadapannya. Tiap pagi menikmati tegukan tuak sambil mengalunkan nada – nada dari senar gitar seakan tiada beban.

Sepenuh waktunya dia habiskan untuk bernyanyi. Semua lagu dia tahu. Bahkan kau bisa memintanya tuk menyanyikan lagu kesukaanmu, dengan senyum nyinyirnya dia hanya akan memintamu uang seribuan. Saya rasa untuk hiburan seberkelas itu tidak akan rugi untuk mengeluarkan uang dari sakumu.

Setelah puas dengan minuman dan nyanyiannya, sesuatu yang takkan bisa dipisahkan darinya, dia akan berjalan sekedar untuk mencari suasana Imagebaru. Terkadang dia tertawa, entah apa yang dia tertawakan tapi dia terus tertawa tanpa mempedulikan tatapan benci atau marah dari orang yang melihatnya. Menertawakan mereka yang sibuk dengan pekerjaanya, wajah – wajah yang selalu menggerutu dan nyaris tidak adA senyuman disana.

Senyumnya akan selalu merekah kepada siapa pun… dia akan tersenyum kepada setiap orang yang dia lihat. Hai bodoh… apakah harimu baik sebaik hariku?? Mungkin itu yang ingin dia katakan diiiringi dengan seringaian yang panjang. Dan dia akan tertawa saat orang itu hanya menganggapnya selintas lalu atau bahkan berlari ketakutan jika kebetulan dia orang pendatang disana.

Setelah berjalan beberapa saat dan mendapatkan uang entah darimana saja dia akan kembali meminum beberapa gelas tuak dan bernyanyi, kali ini dia menyanyikan glory of love. Bahkan kemampuannya bisa disejajarkan dengan Peter Zetera jika dia tidak tertawa terlalu banyak.

Jika hari mulai gelap, dia akan berhenti bernyanyi dan kembali ke rumahnya. Bahkan orang seperti dia pun masih ingat untuk pulang. Keesokan paginya juga akan selalu demikian. Bangun pagi dan meminum beberapa gelas tuak dan memainkan gitar, seakan gitar itu sudah menjadi milik pribadinya. Habis dengan satu lagu dia akan melanjutkan lagi dengan lagu yang beritme berbeda dengan yang sebelumnya. Hebatnya lagi dia bahkan bisa membuat irama yang sebenarnya dengan versinya sendiri.

Bahkan seseorang seperti dia masih bisa memberikan warna bagi hidup ini

Seperti pagi ini, disaat cuaca sangat mendung dan dingin yang begitu menusuk sampai ketulang – tulangmu dia melantunkan lagu beritme girang. Wajahnya menunjukkan kegirangan dirinya yang tersenyum dan bahkan diselingi suara tawanya yang sumbang, tidak seindah suaranya kala menyanyi. Dia tidak merasakan dingin yang tampak dari bajunya tanpa lengan. Menunjukkan otot – otot besarnya menyisakan kegagahan di masa muda.

Setangguk tuak dia minum, terdiam, bingung memikirkan lagu selanjutnya dia mulai mengoceh kemudian menggaruk – garuk rambut kusutnya. Mungkin sudah hitungan minggu rambutnya tak pernah terjamah oleh air. Seakan mendapat ide, dia menarik nada menyanyikan lagu Sway. Mungkin dia sedang membayangkan dirinya duduk disebuah pantai berpasir putih bersih ditemani semilir angin yang sejuk.

 Dulu diawal – awal  kedatangannya ke kota ini, dia sering menceritakan dirinya, dari ceritanya dulu dia bekerja di Bali sebagai penyanyi cafee. Di bali dia meninggalkan keluarganya dengan dua putra dan satu istri, entah bagaimana nasib keluarganya skarang tidak ada yang tahu. Saat ini dia tinggal di rumah orangtuanya berbagi rumah dengan saudaranya yang lain. Tanpa pekerjaan, keluarga dan  juga harta yang ada padanya namun, dia masih bisa tertawa dan menikmati harinya dengan lagu. Umurnya yang mulai senja tidaklah menghalangi keinginannya untuk terus minum dan bernyanyi.

Sungguh hidupnya begitu sederhana, tanpa ada beban dan tidak peduli dengan orang yang ada disekelilingnya. Hidupnya benar – benar begitu menyenangkan baginya. Di saat malam kembali tiba hanya kesenyapan yang ada di sebuah kedai minum kecil itu. Sepi tanpa adanya alunan gitar dari dia. Bahkan seorang seperti dia masih bisa memberikan warna bagi hidup ini.