Diposkan pada Travel

Konsep Little Tokyo Ennichisai 2015, Blok M, Jakarta Selatan

Langit tampak biru dan cuaca di Minggu pagi awal Mei (2015) kemarin sangatlah menyenangkan. Sejauh mata memandang, bangunan – bangunan yang ada disini, Blok M- Jakarta, terlihat unik dengan desain pertokoan yang dibiarkan menua, mungkin salah satu alasannya untuk menjaga nilai historis atau bisa juga keartistikannya.

Masih terlalu pagi kami tiba disini, belum banyak pengunjung, hanya para pemilik booth yang tampak sibuk menjejali aneka barang dagangan untuk di display. Tenda – tenda putih dengan ujungnya yang runcing tertata rapi disisi jalan kecil. Lampion bertuliskan aksara Jepang tergantung di atasku sementara jalanan tengah lengang. Suasana ini akan berbanding terbalik 360 derajat di siang nanti. Bahkan saking padatnya, kamu harus siap berdesak – desakan menyusuri jalanan.

Salah satu sudut jalan tempat diselenggarakannya Pagelaran Budaya Ennichisai 2015 di pagi hari
Salah satu sudut jalan tempat diselenggarakannya Pagelaran Budaya Ennichisai 2015 di pagi hari

Kalaupun sebelumnya aku belum pernah ke Negara Jepang aslinya nih, namun berada di sudut kota ini dengan dekorasi dibuat se-Jepang mungkin sudah membuatku seakan menginjakkan kaki di negara nun jauh disana tempat Naruto berada…

Sementara di sudut lainnya
Sementara di sudut lainnya
Spot yang paling aku suka nih...
Spot yang paling aku suka nih…

Ennichisai adalah satu event festival budaya, seni dan kuliner Jepang yang diadakan setahun sekali dengan mengangkat tema berbeda. Di tahun ini temanya adalah Always Smile, karena Senyum dapat Memperkuat Persahabatan. Diselenggarakan terhitung hanya 2 hari saja dari tanggal 09 Mei 2015 – 10 Mei 2015, festival ini menyedot banyak perhatian kaum remaja sampai dewasa. Bukan hanya pecinta komik atau anime saja, aku (yang dulunya ‘addicted’ juga) atau mungkin beberapa pengunjung lainnya banyak yang berkunjung untuk memuaskan rasa penasarannya dengan Budaya Jepang apalagi dengan kulinernya.

Berada disini kamu akan melihat begitu banyak pilihan makanan khas Jepang yang dapat dicoba. Ada banyak para Cosplayer juga yang ramah – ramah dan bisa diajak Selfie. Belum lagi miniatur – miniatur karakter anime yang walaupun kecil harganya mahal sekali (ratusan ribu saudara!), pernak – pernik lucu sampai belajar membuat origami. Jadi persiapkan dana juga bila ingin kemari ya 😉 daripada cuma gigit jari tidak bisa nyobain kulinernya 😀

Proses Pembuatan Takoyaki
Proses Pembuatan Takoyaki

Takoyaki

Okonomiyaki
Okonomiyaki “Bakwan” ala Jepang
Ringo Ame, permen dari bua apel segar dilapisi karamel yang mengeras. Makannya butuh kesabaran :)
Ringo Ame, permen dari buah apel segar dilapisi karamel yang mengeras. Makannya butuh kesabaran 🙂

DSC_5826[1]
Uniqely Sketch Books & Notes
DSC_5835

Boneka Kayu Jepang
Boneka Kayu Jepang

DSC_5833

DSC_5836

DSC_5834

DSC_5803

Memasuki siang hari, acara yang ditunggu – tunggu nih yaitu Mikoshi (Kuil Portable). Infonya, tandu yang dihias dengan megah seperti sebuah yagura, dipercaya dinaiki oleh objek pemujaan atau roh dari kuil Shinto di Jepang. Pada penyelenggaraan matsuri, mikoshi diusung beramai-ramai di pundak oleh para penganut, dan dibawa berpawai keliling kota.

DSC_5852

DSC_5850

Jika kamu tidak sempat berkunjung dan penasaran dengan suasana saat Mikoshi diarak-arak di Festival Ennichisai kamu bisa lihat disini. Untuk kualitas videonya, yah sedikit hancur sih hehehe shy-whistler

Diposkan pada Travel

Backpacker Berburu Kenyamanan di Bandung, Jawa Barat

Tema libur Lebaran kali ini memang sedikit berbeda dari perjalanan – perjalanan sebelumnya, dimana sebelumnya itu selalu identik dengan Perjalanan yang murah meriah dengan mengesampingkan kenyamanan (See my previously trip here). Nah, sementara kali ini biaya yang dikeluarkan justru terbilang lumayan besar untuk perjalanan ke Bandung yang hanya 1 hari 1 malam. Namun, worthiedlah dengan tujuannya, kenyamanan.

Sebelum membaca post ini lebih lanjut, penting saya sampaikan bahwa post kali ini ditujukan bagi pengunjung yang buta sama sekali dengan perjalanan ke Bandung. Lebih tepatnya tidak ada tujuan jelas, perencanaan dan sumber informasi yang akurat. Jadi mungkin agak sedikit melelahkan membacanya.

run7Hari Pertama : Jumat, 17 Juli 2015

Berangkat dari Terminal Cawang BKN, Jakarta Timur  menuju Kota Bandung menggunakan Primajasa (Executive) Rp.90.000/orang (10.00 – 13.00 wib) – Kamu bisa naik Busway ke terminal ini dan turun di halte Cawang BKN (Koridor 9)

DSC_6664[1]

Menunggu Detik-detik Keberangkatan
Menunggu Detik-detik Keberangkatan

Butuh waktu 3 jam untuk sampai di Terminal Lewi Panjang. Padahal umumnya jarak Jakarta – Bandung itu bisa ditempuh 2 jam saja, terang saja ini dikarenakan masih dalam suasana Mudik Lebaran. Terminal Lewi Panjang merupakan pemberhentian terakhir Bus Primajasa. Sampai disini nih, kami mulai bingung menentukan tujuan selanjutnya. Hingga diputuskan cari penginapan untuk malam itu terlebih dahulu. Apesnya, beberapa dari kami yang sebelumnya sudah pernah kemari juga lupa naik angkutan jurusan apa ke Dago. Kalau begini ceritanya jangan malu untuk bertanya ke orang yang tepat!

Seorang teteh penjaga warung di dekat terminal bilang, untuk ke Dago naik angkutan warna kuning arah ITC, turun lalu transit naik angkutan jurusan Kalapa – Dago (Angkutan Warna Hijau). Untuk perorang dikenakan Rp.5.000

Kebingungan terus berlanjut saat harus memilih tempat makan. At least dari hasil voting pilihan jatuh ke Mc.Donald, oh tadinya aku mengira akan makan di warung masakan khas Sunda. Tapi tak apalah yang penting perut terisi. Kemudian lanjut lagi diskusi alot menentukan lokasi penginapan, apakah dekat dengan kota atau daerah tujuan wisata nantinya (ini juga belum ditentukan loh!) — dan rental mobil.

Alih – alih dapat tarif lebih murah yang terjadi malah sebaliknya, justru memakan waktu untuk menghubungi penginapan di Bandung satu per satu. Ada kali 20an nomor kontak Hotel dan Rental Mobil yang kami hubungi. Itu pun masih juga dapat Hotel dan Rental mobil dengan harga ‘hari besar’ — yang masih bisa dinego jika direserve jauh – jauh hari. (Sepertinya memang sudah jadi penyakit kami untuk Touring tanpa perencanaan sebelumnya) shy-whistler

Tapi sisi positifnya kami jadi tahu berapa range harga penginapan di Hotel Bandung. Sedikit bocoran bahwa hampir semua hotel yang kami tanyakan mematok harga untuk Standard Room dengan Single Bed sebesar Rp.350.000 dan Rp.150.000 – Rp.200.000 untuk extra bed (kapasitas 3 orang dalam 1 room). Sedangkan untuk tarif rental mobil include Supir rata – rata dipatok Rp.600.000/12 jam (plus Bahan bakar Rp.150.000), dan ditengah – tengah musim libur panjang seperti ini kami termasuk beruntung mendapatkan mobil rental walau harganya yah seperti yang kusampaikan di awal sedikit lebih mahal. Hingga akhirnya kami putuskan untuk menginap di Hotel yang kurang lebih 20 menit jalan kaki jauhnya dari Mc.Donald di Perempatan Dago.

Jalan menuju Hotel, Jalan Tubagus VIII
Jalan menuju Hotel, Jalan Tubagus VIII
Scenery dari kamar 421
Scenery dari kamar 421

Malam hari kami habiskan di jalan Braga. Jika tidak mempunyai kendaraan sendiri, ada baiknya menggunakan Taxi saja menuju kesini. Karena jika dihitung – hitung dengan menggunakan angkutan umum perbedaannya hanya sedikit saja. Misalnya nih, saat kami berangkat ke Jalan Braga, karena berniat menghemat biaya (maklum, kami harus naik 2 taxi mengingat jumlah kami) — kami berjalan kaki kurang lebih 20 menit dengan kondisi jalan undak – undakan. Sungguh melelahkan! Sesampainya di jalan besar Dago, tambah Pe-er lagi mencari angkutan jurusan Jalan Braga, hingga akhirnya kami carter Angkutan Umum sebesar Rp.48.000 (normalnya kami harus transit terlebih dahulu oleh sebab itu setiap orang dipatok Rp.8.000, sekali jalan Rp.4.000). Berbeda dengan kepulangan kami yaitu naik taxi dengan argo, kami hanya dikenakan Rp.30.000/taxi. See, hanya berbeda RP.12.000 saja 😦

Berada di Jalan Braga seakan menginjakkan kaki di masa – masa kolonial. Yang istimewa yaitu disepanjang jalan terdapat bangunan – bangunan kuno sisa peninggalan jaman Belanda dulu ditambah dengan sejarahnya (see Sejarah Jalan Braga, Bandung). Dan sampai saat ini dirawat dan dipoles dengan tidak meninggalkan nilai sejarah dan desain bangunan Belanda tempoe doeloe. Jakarta juga memiliki Spot seperti ini yang tidak kalah bagusnya (Bandingkan dengan Kota Tua, Jakarta Kota)

Untuk makan malam kami menyambangi Hang Over, Bar & Cafe. Kalau ditanya soal harga masih mahalan makan di dekat kantorku  icon-cry-3Pilihan menu yang ditawarkan menu nasi – nasian seperti nasi ayam betutu, nasi goreng Hang Over, dll,— disini ada Indomie klasik loh, Snack, Roti bakar dan aneka minuman juga. Disamping itu, Cafe ini memiliki desain interior yang cukup menarik. Ada lampu gantung yang dihiasi botol – botol minuman, ada juga disediakan satu ruang yang tertutup dengan dua jendela — sisi kanan dan kiri, yah sepertinya semacam memberikan privasi kepada customer.

Lepas dari sana, langsung hunting foto serta beristirahat sejenak di bangku yang banyak dijumpai disepanjang jalan Braga. Rasanya begitu nyaman menikmati suasana malam Kota Bandung dengan sekaleng minuman soda dari Circle K. Ingin rasanya berlama – lama berada disini. Melihat bangunan – bangunan tua, jalanan yang bebas debu, hening dan menikmati malam dengan cuaca yang tidak akan kamu dapat di Jakarta.

run7Hari Kedua : Sabtu, 18 Juli 2015

Kawah Putih, Ciwidey – Danau Situpatenggang – Lembang – Home

Pagi di kota Bandung sangatlah dingin teman. Lepas mandi dan sarapan waktunya hunting foto. Hotel Lotus memiliki Gazebo ditengah taman yang terawat. Disisi kiri terdapat kolam ditumbuhi teratai yang menjadi ikon hotel tersebut. Tidak terlalu besar namun cukup nyaman untuk ditinggali. Hari kedua ini, kami akan mengunjungi Kawah Putih, Ciwedey, Bandung. Ampun dah, tenyata perjalanannya jauh sekali. Jam 9.00 wib start dari Hotel (sekalian Check Out) dan tiba di Kawah Putih pada pukul 13.00 wib (4 jam broohh!!)

20150718_080712

Memasuki kawasan Kawah Putih ada alternatif, yang pertama kamu bisa menaiki Bus Ontang – anting yang sudah difasilitasi dan membayar tiket bus atau menggunakan kendaraan pribadi dengan biaya yang tentunya lebih mahal dibanding menggunakan bus yang sudah disediakan. Akses yang kami pilih yaitu menggunakan Bus ontang-anting — rasanya seperti naik Harvest Time di Jungle Land.

Sesampainya di Kawah Putih, pengunjung akan selalu diingatkan untuk menghabiskan waktu tidak lebih dari 15 menit. Namun, jika bernafas sudah sesak, batuk – batuk dan mata pedih maka jangan menunggu 15 menit juga, langsung tinggalkan kawasan tersebut karena akan membahayakan tubuhmu sendiri. Ini merupakan efek menghirup belerang dengan bau yang sangat menyengat.

DSC_6738
Kawah Putih, Ciwidey, Bandung

DSC_6767

DSC_6765

Narsis dulu ya!!
Narsis dulu ya!!
Poe yang tidak pernah ketinggalan
Pose yang tidak pernah ketinggalan

DSC_6751

Jika masih ingin berlama – lama menikmati indahnya Kawah Putih ini, ada satu Spot cukup aman dimana kamu dapat melihat lebih luas area Kawah Putih tanpa harus menghirup bau belerang yang superr!!– yaitu berada di bukit, tempat yang disediakan bagi para lansia. Ada sebuah Gazebo dimana kamu bisa duduk santai sambil melihat kerumunan orang dibawah. (See Kawah Putih Ciwidey)

Vegetasi Kawah Putih
Vegetasi Kawah Putih
Scenery dari atas bukit yang disediakan bagi para lansia
Scenery dari atas bukit yang disediakan bagi para lansia

DSC_6783

DSC_6782

Jangan lewatkan oleh - oleh Strawberry manis dari Ciwidey ini
Jangan lewatkan oleh – oleh Strawberry manis dari Ciwidey ini

Next, Situpatenggang menjadi tujuan kedua kami. Danau ini berada Kecamatan Rancabali, tidak jauh dari Kawah Putih, kurang lebih 30 menit perjalanan. Sepanjang perjalan kemari pengunjung akan disuguhkan dengan scenery perkebunan teh, so beatifull!! Ternyata dibalik namanya ada kisah yang sangat romantis sehingga sampai sekarang mitosnya jika ada yang berpasangan mendatangi Batu Cinta dan mengelilingi Pulau Asmara yang terdapat ditengah danau tersebut maka hubungannya akan langgeng. Mudah – mudahan saja teman kami yang datang kemari bersama kekasihnya akan selalu langgeng walau tidak sempat menyeberang dan melihat Batu Cinta tersebut 🙂  Cerita Situpatenggang

Situpatenggang
Situpatenggang

DSC_6816[1]
Boat yang akan membawamu ke Batu Cinta dan Pulau Asmara
Pukul 16.00 wib kami beranjak dan bergegas menuju Lembang. Parahnya, kami baru tiba di Restauran Sindang Reret, Lembang pada pukul 20.30 wib. Bukan hanya Jakarta saja yang macet, Bandung di kala libur besar seperti sekarang ini juga macet parah. Dan terlepas dari itu, menikmati sajian Sop Buntut, Sop Bandung, Gurame Goreng Cabe, Gurame Bakar Kecap, Oseng Kangkung dan dilengkapi Sambal Dadak adalah closing terindah dari perjalanan 1 hari 1 malam kami.

DSC_6866
Berkutat dengan bill-bill

Sebelum kututup cerita ini, mungkin ada yang bertanya – tanya biaya perjalanan selama disana. Berikut beberapa yang harus kamu tahu sebelum bepergian ke Objek wisata Bandung based on pengeluaran kami.

You have to know :

Bus Jakarta – Bandung : Bus Primajasa Rp.90.000/orang (executive)

Angkutan umum : Rp.4.000 – Rp.5.000/orang

Penginapan : *Rp.525.000/kamar (bisa ber-empat dalam satu kamar). Fasilitas 2 bed room, TV dan kamar mandi (plus water heater)

Rental mobil : *Rp.700.000 (include jasa supir but exclude bahan bakar—Rp.150.000/14 jam, bisa lebih), Total Rp. 950.000/14 jam (ini sudah termasuk tip buat Bapaknya)

Hang Over Cafe : *Rp.191.500 untuk makan ber-enam (sesuai pesanan)

Masuk Kawah Putih : Rp.18.000/orang dan Rp.90.000/roda 4. Tambahan charge jika menggunakan Bus Ontang – anting Rp.18.000, Total Rp.306.000/6 0rang.

Masuk Danau Situpatenggang : Parkir kendaraan roda 4 Rp.11.500, Pengunjung Rp.13.000/kepala & PNBP Lokal (Pendapatan Nasional Bukan Pajak) Rp.7.500/kepala.Total untuk 7 orang Rp. 155.000. (untuk fasilitas toilet charge Rp.2.000)

Restauran Sindang Reret : *Rp384.450 untuk 6 0rang (sesuai dengan menu yang saya sebutkan sebelumnya)

Yah, dihitung-hitung perorang kena biaya kurang lebih Rp.800.000 🙂

Semoga bermanfaat!!!!

 

 

*Lotus Hotel, Jl.Tubagus Ismail VIII No.45B, Bandung, 40134. Telp: (022) 825 234 71. email: reservation@lotusbandung.com

*Bapak Denny #Rental Mobil Bandung dapat dihubungi di 0812 8902 7727

*Hang Over Cafe : Jl.Braga 47, Bandung, 40111. Telp : (022) 4260 491, visit › http://www.hangoverbandung.com

*Sindang Reret Hotel and Restaurant : Jl. Surapati No. 43, Bandung, 40133

Diposkan pada Travel

Visit Food & Hotel Indonesia 2015, Jakarta Internasional Expo (Ji-Expo), Kemayoran

Finally, di tengah – tengah jam kerja dan deadline minggu ini, bisa juga menyempatkan diri mengunjungi pameran sebesar dan sekelas Food & Hotel Indonesia 2015. Pameran yang ke-13 yang mengusung konsep Hotel Internasional, Catering Equipment, Food and Drink Exhibition, Display and Storage Exhibition, International Retail Technology and Equipment. Jadi sudah bisa dibayangkan ramainya pengunjung dan para exhibitor di gedung Jakarta Internasional Expo dari tanggal 15 – 18 April 2015.

Invitation
Invitation

Pameran ini diikuti oleh 13 perwakilan negara dari Australia, China, Iran, Italy, Korea,  Singapore, Afrika Selatan, Spanyol, Taiwan, Turkey, dan Amerika Serikat di Hall A1, A2, A3, B1, B2, C1, C2, dan Area Outdoor di tengah – tengah lapangan (Hall F).  Baca selengkapnya disini juga disini. Tiap Hall dibagi berdasarkan konsep yang diusung, misalnya nih, Hall A1 dan A2 memamerkan jajaran Equipment yang sudah banyak digunakan di kelas – kelas Retail dan Hotel Indonesia. Yang paling menarik perhatian adalah mesin – mesin kopi yang kerap kali berhubungan dengan Jobdeskku. Bagi yang doyan nongkrong di J-co, Starbucks, Sevel, Es Teller, FamilyMart 🙂 dan sejenisnya pasti sudah sering melihat equipment yang dimaksud. Itu loh… bukan hanya mesin kopi, Ice beverage, Ice machine, Chiller, fryer, Freezer dan masih banyak lagi—disini kamu bisa lihat Up datenya serta kenalan langsung dengan para Marketing Presentationnya, yah hitung – hitung menambah relasi.

Masuk Hall A3 dan D1, disini nih yang paling aku suka. Ada banyak sample makanan diberikan ke pengunjung, hehehe… :p  Yup, di hall ini para importir makanan berlomba merebut perhatian para pengunjung. Ada instant food dari Singapore, Teh atau Fruit and Vegetable dari Taiwan, Beef Product dari Brazil, Organic Noodles dari Jepang dll.

Variant Product
Variant Product

Food Variant_JiExpo_Wee

Sedangkan di Hall D2 lebih kepada Hospitality, Design and Furniture, Networks juga Resources. Produk – produk yang disajikan seperti tempat tidur yang sangat Cozy, furniture daur ulang (vase, tray, candle holder, picture frame, coffee table, storage basket of natrural fiber dan placemat).

Storage Basket from Natural Fiber
Storage Basket from Natural Fiber

DSC_5656DSC_5638

Eh, ada Cinderalla yang dibalut dengan busana yang terbuat dari Butter Cream. Bukan hanya itu saja, kereta kencana dari labu juga kudanya dilapisi Butter Cream. Tampak Chef-nya sedang mencoba menyelesaikan hiasan kereta labunya.

Cinderalla Butter Cream
Cinderalla Butter Cream

Ceramic and Lamp_WeeDSC_5636

Dan terakhir Hall F, C dan B suasananya sedikit berbeda, tidak seramai di Hall sebelumnya namun masih tetap menyajikan berbagai equipment, mesin – mesin produk makanan dan makanan juga (Korean Food ada di Hall B :)). Tapi saat memasuki Hall F, ada satu sudut display yang ditata sangat apik dan cantik 🙂

DSC_5658

Membawa Pulang Olive Oil Virgin seharga Rp.19.000
Membawa Pulang Olive Oil Virgin seharga Rp.19.000

Tiga jam rasanya tidak cukup memutari semua hall. Jadi lihat dahulu Map atau panduannya, tentukan tujuan dan jalannn. Kamu juga akan banyak menjumpai bule yang seliweran disana – sini, terang saja karena taraf Internasional ya… :D. Mereka cukup ramah – ramah menurutku (namanya memperkenalkan produk mereka) dan pastinya bisa menikmati produk – produk yang dijual dengan harga yang jauh jauh lebih murah dari harga pada umumnya.

At least, pada kunjungan yang kedua ini benar – benar memuaskan. Sama – sama menarik jika dibandingkan Pameran InterFood Indonesia 2014 yang diselenggarakan November kemarin. Tidak menyesal dah :D. Wonderfull Indonesia!

 

 

 

 

 

 

See ya!

DSC_5640

Diposkan pada Travel

Nongkrong Disini Yokk

Rasanya kurang afdol saja jika mengunjungi tempat baru tanpa mempostingnya di blog. Apalagi di salah satu mall besar di kota ini. Mubazir ceritanya gak dibagi – bagi. Dan ceritanya saya jadi anak nongkrong dulu, huehehee.. Tidak perlu merogoh kocek karna it’s free. Hahhaah rezeki anak soleh.

Lets start from:

#Gula Merah, Setiabudi One, Jakarta Selatan

Berada di kawasan perkantoran Kuningan, Jakarta Selatan, tempat ini menjadi tempat tongkrongan favorit di jam – jam makan siang. Kamu akan menemukan banyak pilihan mulai dari masakan Western, Asian food sampai masakan khas tradisional Indonesia. Sepertinya sudah di set demikian melihat pengunjungnya kebanyakan para ekspatriat.

Di Gula Merah, terletak di lantai 1 gedung tersebut, disajikan masakan khas Sunda. Masakan tradisional Sunda ini tidak jauh – jauh dari menu Nasi Lemak, Nasi Bakar, Rawon dan berbagai aneka gorengan yang salah satunya singkong goreng (Recommended nih!).

DSC_0554

DSC_0555

Naik ke lantai 2 kamu akan menjumpai booth yang menjual Crepes (baru buka 2 minggu yang lalu). Rasanya benar – benar enak dan renyah. Tapi dibanding melihat Crepes dalam wujud aslinya, saya lebih suka dengan dummynya.

Dummy Crepes
Dummy Crepes

#Hachimaki, Sushi & Ramen, Mall Central Park, LG Floor, Grogol Petamburan, Jakarta Barat

Nah yang ini nih, tempatnya rada – rada jauh dari keramaian. Tidak jauh dari ATM Mandiri di Lower Ground dan disebelahnya tempat makan yang menyajikan masakan khas Korea (sempat lirik sedikit sih ada Bulgoginya).

Tapi Ramen di Hachimaki lebih menggoda (mianhae oppa…). Jadilah kami mencoba 4 menu utama yang berbeda seperti Karaage Karai Ramen, Karai Ramen, Tonkotsu Ramen dan Sushi Spicy. Untuk minumnya Matcha ole (rasanya Vanila tea gitu), Japanese Soda Apple, Blue Ocean dan Strawbery Queen. Oh, untuk Ramennya jangan sampai salah memilih level spicynya. At least you have to know your own capacity. Hahahaha, siapa sangka Tulisan besar Try n’ Cry di menunya adalah sebuah peringatan. Level 5 saja sudah bisa membuatku nangis bombay apalagi teman yang ramennya level 7. Sedangkan Sushi Spicynya justru sebaliknya, tapi rasanya sungguh nikmat. Hanya bagi lidah-lidah sepertiku yang terbiasa dengan masakan dapur rumah, jangan coba – coba makan wasabinya. Yuckk, rasanya sungguh aneh. Disini kamu bisa memilih mau pake Pork atau menu halal dengan daging ayam.

Karai Ramen
Karai Ramen
Karaage Karai Ramen
Karaage Karai Ramen
Spicy Sushi
Spicy Sushi
Matcha Ole yang menyejukkan
Matcha Ole yang menyejukkan
Japanese Soda Apple
Japanese Soda Apple

#JCo Donuts & Coffee, Pusat Grosir Cililitan (PGC), Jakarta Timur

Wah, yang ini sudah biasa ya… Yang nggaknya karena ada menu minuman baru loh (kok jadi promote gini ya :D). Namanya White Choco Frappe. Rasanya Vanila, milk dan chocolate. Jadi tidak perlu menyiksa perutku dengan kandungan Kafein yang memang tidak ada. Bisa saja menambahkan espresso didalamnya tapi nambah goceng ya…hehhee

White Choco Frappe (Yummyyy)
White Choco Frappe (Yummyyy)

 

 

 

Diposkan pada Travel

Live Music Edisi Valentine, Summarecon Mall Bekasi

Yess!!!

You could be a single player but Valentine still can be enjoyed.

No chocolate, no flowers, no presents but that’s no big deal.

Ceritanya biar ikut merasakan euforia Hari Valentine yang kali ini tepat jatuh di hari sabtu (oh, come on.. Malam minggu dengan Valentine adalah dua momen yang amat jarang terjadi), aku dengan teman lainnya (dua orang diantaranya membawa pasangan) berkunjung ke Summarecon Mall Bekasi.

Targetnya menikmati Live Music yang kali ini bintang tamunya adalah Ungu. Alih – alih ingin mendapat posisi dekat panggung malah terlambat datang. Melihat ramainya orang, tidak mustahil orang – orang yang duduk itu sudah hadir sejak siang tadi. Jadi, bisa ditebak kalau mendapat kursi kosong bagai mendapat rezeki nomplok.

Tempatnya sangat crowded tapi tidak mengurangi ketertarikan kami menantikan penampilan Ungu. Walau posisi kami jauh dari panggung (pada awalnya), tapi tentu saja untuk sebuah permulaan tidak jadi masalah. Karena untuk makan dan foto narsis posisi ini okelah.

Sembari menunggu pesanan makanan datang (Aku mencoba Mie Pangsit Udang yang hmmm.. Yummy di Chicken Village, berkisar Rp.29.000/porsi), aku dan dua orang teman memilih memutari mall. Wah, ada diskon besar ternyata.. Salah satu Brand tas, Palomino, banjir diskon sampai 50%. Itu harga setelah diskon jadi 300.000an, padahal kalau di online shop bisa sampai 600.000an. Eh, kok jadi promosi gini ya.. Hehehe, dengar – dengar diskonnya sampai tanggal 22 Februari ini loh..

Ayo, ayo... Diskon besar - besaran nih.
Ayo, ayo… Diskon besar – besaran nih.
Hebatnya kekuatan diskon
Hebatnya kekuatan diskon

Disini kamu juga bisa lihat DJ secara live memainkan musik yang well, cukuplah membuat kepalamu tidak bisa berhenti angguk – angguk.

After whole, semuanya menyenangkan. Nongkrong di Food Hall, Narsisan bareng, nikmatin diskon, dihibur Ungu lagi. So, this is my Valentine hihihi…

Live DJ Performance (dia sangat menikmati penampilannya)
Live DJ Performance (dia sangat menikmati penampilannya)
Narsis et Food Hall
Narsis et Food Hall
Selfie :)
Selfie 🙂

C360_2015-02-14-20-14-59-168

Tebak saja Pasha nya dimana
Tebak saja Pasha nya dimana
Diposkan pada Travel

Pantai Batu Hiu di Desa Ciliang, Kecamatan Parigi, Ciamis, Jawa Barat

Jika kau pernah membaca tulisanku sebelumnya di Pantai Batu Karas dan Green Canyon, mudah – mudahan masih ingat bahwa sepulangnya dari Pantai Batu Karas dan sungai Green Canyon, Pangandaran, kami bergerak menuju Pantai Batu Hiu. Kira – kira 1 jam jaraknya dari Cijulang, Pangandaran.

Saking hebatnya pantai ini, tidak banyak hal yang bisa kusampaikan kecuali membagikan foto – foto keindahan pantai tersebut. Cukup membayar tiket masuk Rp.30.000/mobil, tapi sedikit catatan jika saya tidak salah ingat bahwa tarif yang dikenakan berbeda tiap kendaraan. Selain itu sediakan uang Rp.5.000an untuk biaya parkir.

Scenery Pantai Batu Hiu dari atas bukit
Scenery Pantai Batu Hiu dari atas bukit
Nyiur melambai
Nyiur melambai
Siapa yang tidak betah memandangi laut di bawah pohon seperti ini?  :)
Siapa yang tidak betah memandangi laut di bawah pohon seperti ini? 🙂
Bersantai di bawah lindungan. pohon - pohon Pandan Wong
Bersantai di bawah lindungan. pohon – pohon Pandan Wong
Deretan pohon - pohon Pandan Wong
Deretan pohon – pohon Pandan Wong
Hey, lihat apa yang kutemukan!! Waktu SD aku terbiasa menyebutnya siput (not ; sea food)
Hey, lihat apa yang kutemukan!! Waktu SD aku terbiasa menyebutnya siput (not ; sea food)

Pantai Batu Hiu terletak di desa Ciliang, kecamatan Parigi, Jawa Barat. Seperti yang saya bilang sebelumnya, kira – kira 1 jam dari Pangandaran menuju ke arah selatan. Hal ini dikarenakan akses jalan di Pangandaran masih kurang memadai.

Dan tahu tidak bahwa hamparan air membiru dengan ombak putih yang bergulung – gulung yang tersaji di hadapanmu  jika mengunjungi tempat ini adalah Samudera Indonesia (aku baru tahu saat mulai menuliskannya di blog ini -shy-)

Jadi jika hasratmu menggebu  – gebu untuk berenang harus dipendam dulu sedalam – dalamnya. Karena pengunjung tidak diperbolehkan untuk berenang di bibir pantai apalagi ke tengah pantai :p

Tapi, jangan kecewa dulu walau tidak bisa cebar – cebur karena bermain air disini tidak kalah serunya. Yah misalnya main kejar – kejaran dengan ombak yang pasang surut di bibir pantai, seperti di salah satu MV One Direction itu loh, atau memendam badanmu di pasir pantai (asalkan jangan terlalu dekat dengan air, bukannya senang malah kelelep dah :D)

Indah tapi tidak tersentuh :)
Indah tapi tidak tersentuh 🙂
DSC_9409
Gulungan ombak putih menghantam karang
Bukit dimana kau bisa menikmati hamparan air membiru Samudera Indonesia
Bukit dimana kau bisa menikmati hamparan air membiru Samudera Indonesia
Tak ketinggalan, foto – foto dulu
DSC_9414
Great 🙂

Kamu pasti berfikir kenapa dinamakan dengan Batu Hiu? Apakah karena banyak hiu sehingga salah satu alasan pengunjung tidak perbolehkan berenang disini adalah karena banyaknya hiu? Stop, terlalu banyak berkhayal jadinya, hehehe..

Kurang tahu historisnya bagaimana, tapi aku mengkaitkannya dengan sebuah lorong yang berbentuk hiu. Lorong ini menghubungkanmu ke sisi lain pantai. Masuk ke lorong ini biasa saja, tapi ketika keluar dari lorong kamu akan berada tepat di mulut hiu. Seakan – akan kamu sedang dimangsa hiu besar ini. Disebelah lorong, ada patung simbol Pantai Batu Hiu yang melambangkan tiga ekor hiu.

Sirip lorong hiu yang tampak menyerupai aslinya
Sirip lorong hiu yang tampak menyerupai aslinya
DSC_9446
Adakah hiu sebesar ini?

 

Patung Batu Tiga Hiu
Patung Batu Tiga Hiu
See, Dilarang berenang di Pantai ini karena berbahaya!
See, Dilarang berenang di Pantai ini karena berbahaya!

Oke, menutup perjalanan dari Pangandaran dan Ciamis ini kami singgah ke Bandung. Dari Paris Van Java menuju Kampung Gajah yang makan waktu hampir 3 jam karena kondisi jalan yang macet total hingga akhirnya sampai di Kampung Gajah sudah tidak menerima pengunjung a.k.a tutup. Apa daya karena esoknya harus Kembali ke Jakarta yah cuma numpang foto sajalah 😀

Paris Van Java
Paris Van Java
Numpang foto sajalah
Numpang foto sajalah
Gak mau mati gaya ya begini nih...
Gak mau mati gaya ya begini nih…

CAM00624

 

Diposkan pada Travel

Tantang Dirimu di Pantai Batukaras dan Green Canyon, Kecamatan Cijulang, Pangandaran, Jawa Barat

Hayo, libur lebaran kemarin kamu habiskan kemana? Kalau saya dan beberapa teman memilih untuk mengunjungi Pantai Batu Karas dan Pantai Batu Hiu di Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Tidak lupa juga Green Canyon, dengan stalaktit – stalaktit disisi sungai yang menambah kekagumanku pada alam Indonesia. Jaraknya tidak begitu jauh dari Pantai Batu Karas. Bukan hanya itu saja, kami juga menyempatkan diri mengelilingi kota Bandung. Total perjalanan menjadi 5 hari 4 malam (berangkat di Minggu sore 27/07 dengan kepulangan di hari Kamis Pagi 31/07). Perjalanan yang menyenangkan walau sedikit kecewa dengan ambisi saya ber-body rafting di Green Canyon tidak kesampaian. Padahal jika belum ber-body rafting di sini, belum sah namanya mengunjungi Green Canyon 😥

Dengan durasi perjalanan yang cukup panjang, saya sempat panik akan banyaknya pengeluaran. Namun, setelah dihitung – hitung kami hanya menghabiskan dana tidak lebih dari Rp.700.000. Awesome!! :D. Caranya, kumpulkan beberapa teman minimal 7 orang untuk mendapatkan perjalanan murah seperti ini, karena semakin banyak teman maka pengeluaran seperti biaya penginapan, transportasi dan tiket masuk ke tempat – tempat wisata dapat diminimalisir.

Well, perjalanan dimulai dari Jakarta menuju Pangandaran, Jawa Barat namun kami memilih transit terlebih dahulu di Cimahi, Bandung dengan naik Bus umum jurusan Bandung dari Kampung Rambutan, tiketnya seharga Rp.50.000 . Tapi jika kamu ingin langsung menuju Pangandaran, ada kok Bus umum yang siap mengantarkanmu ke Pangandaran dengan membayar Rp.65.000. Turun di Pangandaran kamu bisa sewa angkutan umum yang akan mengantarkan kamu ke Pantai Batu Karas atau Green Canyon dengan biaya Rp.25.000/orang pulang – pergi. Tinggal pilih ingin menginap dimana, karena di kawasan Pantai Batu Karas banyak dijumpai penginapan dari kisaran Rp.300.000an/malam atau home stay dengan tarif mulai Rp.500.000an/malam.

Sekitar pukul 4 sore bus kami berangkat dan hanya memakan waktu 2,5 jam untuk tiba di Cimarememe. Dari Cimareme naik angkutan umum menuju Cimahi (Rp.8.000/orang). Nah, alasan kenapa transit di Cimahi karena kami mendapat rental mobil dengan harga yang sangat murah (maklum harga persaudaraan) yang nantinya membawa kami ke Pangandaran, dan akan ada tambahan teman yang ikut dengan kami. Alhasil, yang awalnya kami beranggotakan 6 orang dari Jakarta menjadi 9 orang dan harus rela berhimpit – himpitan ria di dalam mobil selama 7 jam perjalanan. Ingat! Ada harga yang harus dibayar, hahahaha…

Sampai Cimareme, yey!!
Sampai Cimareme, yey!!

Pukul 1 subuh kami berangkat dari Cimahi menuju Pangandaran melalui rute Cileunyi, Nagreg, Garut, Tasikmalaya dan Banjar menempuh 7 jam perjalanan, fiuh! Dari kota Pangandaran menuju Pantai Batukaras jalanan mulai tidak bersahabat. Karena kondisi jalan masih banyak yang rusak ditambah hujan deras yang sempat menyambut kedatangan kami.

Meregangkan otot sejenak di pondokan tepi jalan setelah perjalanan 7 jam yang melelahkan (Padahal hanya duduk saja :p)
Meregangkan otot sejenak di pondokan tepi jalan setelah perjalanan 7 jam yang melelahkan (Padahal hanya duduk saja :p)

Mendekati Pantai Batukaras, Cijulang, kamu akan disambut dengan sawah – sawah yang menghijau (pada saat itu loh!), nyiur serta tanaman tropis lainnya dimana salah satunya sempat memicu perdebatan di dalam mobil, tanaman apa yang tumbuh di rawa – rawa namun menyerupai sawit dan pokok salak, entah siapa yang benar :D. Akhirnya pukul 08.40 kami tiba di home stay tempat kami akan bermalam. Ada 3 kamar tidur, 1 kamar mandi, ruang tamu yang luas dan dapur yang sudah dilengkapi dengan kompor gas dan peralatan makan. Jadi bagi yang ingin berlibur dengan keluarga serta ingin menghemat biaya, home stay adalah pilihan yang tepat. Untuk biaya permalamnya sebesar Rp.500.000 tergantung negosiasi dengan pemiliknya, dan kami cukup beruntung mendapatkan tarif semurah itu pada hari libur besar. Kalau soal makanan, tenang saja karena ada catering dan perasmanan disediakan oleh pemiliknya.

Peta Perjalanan
Peta Perjalanan
Homestay Semalam
Homestay Semalam

Istirahat sejenak dan selepas makan siang, kami langsung terjun ke TKP yaitu Pantai Batukaras. Namun, seorang teman yang sudah pernah berkunjung sebelumnya kemari menyarankan mengunjungi pantai yang tak bernama, weleh… Untuk sampai ke Pantai tersebut kami harus melewati kebun dan semak – semak dengan kondisi jalan yang licin serta becek. Kira – kira 15 menit berjalan dari Pantai Batukaras. Sesampainya disana, saya akhirnya tahu mengapa pantai ini sangat disarankan teman saya. Selain karena tidak banyak orang, pemandangan dari sini justru lebih bagus. Pasir hitam yang halus serta gulungan ombak yang tampak menantang kami semakin menambah semangat setelah perjalanan yang yah walau hanya 15 menit tapi cukup melelahkan. Sayang saya tidak punya kamera resolusi tinggi 😥 karena disini kamu bisa mendapatkan spot – spot yang bagus untuk memuaskan hobby fotografimu.

Melewati kebun dan semak - semak untuk sampai di Pantai terasing :p
Melewati kebun dan semak – semak untuk sampai di Pantai terasing :p
Ini nih para explorer dadakannya!!
Ini nih para explorer dadakannya!!
Scenery Pantai Batukaras
Scenery Pantai Batukaras

Deburan ombak
Deburan ombak
Menunggu Ombak
Menunggu Ombak

Belum habis rasa lelah setelah kejar – kejaran dengan ombak besar, seorang teman melemparkan pasir ke arahku yang kemudian berujung dengan perang pasir, menambah keseruan perjalanan kami kali ini.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kembali ke Home stay, mata saya tertuju pada sign “Jalur Evakuasi”. Kalau melihat sign seperti ini, dan kamu akan sering menjumpainya di sepanjang jalan, mengingatanku pada bahaya yang dapat datang kapan saja. Masih ingat kan musibah yang terjadi pada 17 Juli 2006 silam? Saat Tsunami menerjang Pesisir Selatan Pantai Jawa, objek – objek wisata di Pangandaran tidak luput dari terjangannya. Kurang lebih ada 659 jiwa melayang dalam musibah ini. Merinding saya setiap kali melihatnya. See http://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_Jawa_2006

By the way, mengunjungi Pangandaran tidak akan pernah sampai kehabisan ide, karena disini kamu akan menemukan banyak tempat wisata yang menarik dan tidak cukup menjelajahinya hanya dalam 1 atau 2 hari saja. Sama seperti kami, waktu 2 hari itu kami manfaatkan sebaik mungkin. Selepas dari Pantai kami menuju Green Canyon. Nah, disini saya sudah meyakinkan teman untuk ber-body rafting namun apa daya rencana gagal total karena pada saat kami datang hujan deras mengguyur Pangandaran. Air sungai menjadi keruh dan arus sungai yang keras. Karena sudah kepalang basah, kami hanya sewa perahu dan menyusuri sungai dengan boat kecil serta berenang. Tarif sewa perboat dipatok sebesar Rp.150.000 dengan kapasitas maksimal 6 orang/boat sedangkan untuk berenang akan dikenakan tambahan biaya sebesar Rp.150.000/boat untuk 30 menitnya. Sedangkan jika saja ikut paket Body rafting kamu harus merogoh kocek sebesar Rp.250.000/orang sudah termasuk biaya sewa boat, snack dan guide dengan durasinya kurang lebih 4 jam, dan disarankan dimulai sebelum pukul 14.00 wib.

Amat disayangkan, tapi berenang di sungai Green Canyon juga tidak kalah serunya. Memang catatan penting bagi kamu yang ingin Ber-body rafting di sini bahwa pastikan anda mengunjunginya pada musim kemarau. Atau setidaknya seperti yang dikatakan Bapak Guide, jika Green Canyon tidak diguyur hujan selama 5 hari saja, air sungai menjadi bersih dan biru.

Green Canyon atau yang sering disebut Cukang Taneuh
Green Canyon atau yang sering disebut Cukang Taneuh
Menyusuri Green Canyon
Menyusuri Green Canyon

DSC_9333

Air mengalir dari celah - celah batuan
Air mengalir dari celah – celah batuan
Berharap tidak akan runtuh :D
Berharap tidak akan runtuh 😀
Antrian panjang menunggu giliran berenang menyusuri sungai
Antrian panjang menunggu giliran berenang menyusuri sungai

Menyusuri Green Canyon seperti menyusuri sungai Amazon, hehehe… Saya belum pernah kesana juga sih tapi sungai di film Anaconda rasa – rasanya seperti sungai disini. Hmm, beberapa temanku justru terlihat tegang di dalam boat. Harap – harap cemas kalau saja Anaconda muncul dan melilitnya 😀 (Just kid! Disini aman kok 🙂 )

Nah, giliran kami tiba untuk berenang, jantungku tidak terkontrol saking takutnya. Tapi bukan saya namanya kalau tidak nekad, hehehe… Arusnya yang deras langsung menghempaskan tubuh kami, guide yang memandu kami memberikan aba – aba untuk santai dan berenang ke sisi kanan. Hebatnya tiap guide disini sudah hapal sisi – sisi sungai yang banyak batuannya dan yang tidak sehingga kamu tidak perlu khawatir akan membentur batuan. Bukan hanya itu saja, guide menuntun kami untuk menaiki batuan besar dan berdiri dibawah air tejun kecil. Selanjutnya, bisa ditebak kami akan melompat dari batu besar itu. Senangnyaaa!!! 😀

Salah satu wisata yang memacu adrenalin. Berenang menyusuri arus deras sungai, menaiki batu besar dan melompat dari ketinggian kurang lebih 3 meter
Salah satu wisata yang memacu adrenalin. Berenang menyusuri arus deras sungai, menaiki batu besar dan melompat dari ketinggian kurang lebih 3 meter

Sungguh perjalanan kali ini benar – benar melelahkan sekaligus menyenangkan. Selanjutnya masih ada Pantai Batu Hiu dan Kota Bandung menanti. Tapi akan saya lanjutkan ditulisan saya berikutnya. Terimakasih sudah membaca dan mengunjungi page ini. See ya!!

Diposkan pada Travel

Waiting….

Last saturday (July 5), we were going to visit Asemka.  It is one of traditional shopping market center area in Jakarta provides accessories and souvenirs with a very low price. Not far from the Old Town in Central Jakarta. But, we had stuck in front of the Mandiri Museum building waiting for a friend who still not coming yet.

DSC_9082[1]
See direction
In order to kill my bored, I took some pictures from my surrounding. Guess what, waiting wasn’t bored anymore because I felt like I had friends who were waiting for something too…

DSC_9085[1]
An old man with his Bajaj
DSC_9084[1]
Money Changer 🙂
DSC_9087[1]
Daydream
 

Jajanan Kaki Lima
Jajanan Kaki Lima

 

DSC_9086[1]
I hope I could get more customers
Old bicycle
Old bicycle

Finally, after 30 minutes (more than our prediction) she came, fiuhh… Here I took some photo in Asemka, the cheapest place to shop souvenirs and accessories.

DSC_9089[1]
Before shopping let’s eat some fresh fruits
DSC_9090[1]
Asemka Traditional Market
DSC_9091[1]
Buy 3 or more pieces you could get cheaper price
 Happy Shopping day 🙂

 

 

 

 

Diposkan pada Travel

Pulau Pari, Kepulauan Seribu

Sudah sejak lama aku ingin sekali menyelam di laut (soalnya selalu ngiler gitu lihat foto – foto kawan yang liburan dan berenang di laut) tapi sayangnya sulit menemukan waktu yang tepat untuk mengunjungi laut dengan pantai yang indah serta biaya perjalanan yang tidak menguras isi kantong :). Pernah sekali aku mengunjungi laut dengan pantai yang begitu indah di Padang (Lihat di https://dwikaline.wordpress.com/2013/11/14/pantai-carocok-kabupaten-pesisir-selatan/) tapi sayangnya kami tidak menyelam disana.

Waktu kuliah dulu, teman juga pernah mengajak ke Pantai Gudang Garam di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Pernah dengar? Jika pernah dengar Pantai Cermin maka Pantai Gudang Garam tidak asing lagi di telinga karena kedua pantai ini berada di wilayah yang sama dan menjadi destinasi wisata pantai yang amat digemari oleh penduduk lokal. Hanya saja pantai Cermin memiliki Water Boom sementara Pantai Gudang Garam seperti layaknya pantai walau airnya tidak sebiru bayanganku sebelumnya. Awalnya aku sangat kecewa tidak ikut tapi begitu melihat hasil jepretan mereka selama di Pantai Gudang Garam, hmm, aku merasa sebaliknya.

Anyway, ternyata terbukti bahwa niat yang kuat dapat mewujudkan keinginanmu. Karena jauh sebelum aku mengunjungi Pulau Pari, aku selalu membayangkan menyelam di laut dan melihat coral reef, at last kesampaian juga 😀 (Thanks…thanks…Bukan tidak mungkin suatu hari nanti aku bisa mengunjungi Jepang, bukan?). Yup, akhir pekan kemarin (30-31/03/14) kami mengunjungi Pulai Pari, Kepulauan Seribu. Dengan menggunakan jasa Agen Perjalanan, kami yang semuanya beranggotakan 17 orang hanya cukup membayar Rp.300.000/orang untuk menikmati 2D1N di Pulau Pari. Fasilitas yang didapat antara lain 3 kali makan (siang,malam dan pagi), seafood bakar yang sudah siap saji diantaranya: Ikan tongkol, cumi, kedong-kedong (baru dengar nih 🙂 ), penginapan dengan 3 ranjang plus TV minus AC, sepeda yang bisa dipakai selama berada disana dan snorkeling dengan foto under water sepuasnya hehe…

Perjalanan dimulai dengan berkumpul di meeting point Pelabuhan Kaliadem, Muara Angke, Jakarta Utara. Untuk sampai ke pelabuhan Kaliadem, kamu harus melewati Pasar Ikan, Muara Angke (Banyak ikan – ikan segar dijual disni!!). Kalau mau naik Busway naik arah Grogol, dari sana bisa naik angkot ke pelabuhan Kaliadem. Pada saat long weekend seperti kemarin macetnya ampun luar biasa. Belum lagi pada saat tiba di pelabuhan Kaliadem yang dibanjiri orang – orang yang sudah tidak sabar menginjakkan kaki di anak kepulauan Seribu ini.

Pagi - pagi sudah semangat berjalan menuju pelabuhan Kaliadem, Muara Angke
Pagi – pagi sudah semangat berjalan menuju pelabuhan Kaliadem, Muara Angke
Tidak betah berlama - lama di dalam mobil akibat macet, maka berjalan pun jadilah
Tidak betah berlama – lama di dalam mobil akibat macet, maka berjalan pun jadilah

Dibutuhkan 1 – 1,5 jam perjalanan dari pelabuhan Kaliadem ke Pulau Pari. Untung saja ditengah teriknya matahari yang mengganas kami memilih posisi duduk yang strategis. Walau berada di kapal bagian dalam namun, kami bisa duduk di jendela sehingga dapat memandang laut dengan bebas. Berbeda dengan teman – teman lainnya yang duduk di bagian depan kapal sehingga langsung terpapar terik matahari.

Sedikit gangguan saat duduk di jendela :D
Sedikit gangguan saat duduk di jendela 😀
Jakarta dari kejauhan
Jakarta dari kejauhan

Kapal berangkat sekitar pukul 9 (molor dari jam yang direncanakan, huft!!) dan tiba di Pulau Pari sekitar pukul 11. Sesampainya disana, kami langsung menuju penginapan dan diberi waktu untuk istirahat sambil menunggu jam makan siang. Karena belum terlalu lelah kami memutuskan untuk besepeda mengelilingi pulau, sayang jika tidak memanfaatkan waktu kosong seperti ini.

Bersepeda ria
Bersepeda ria

Dengan mengayuh sepeda melewati  jalanan sempit, kami menuju pantai dekat dermaga. Itu sebelum kami tahu Pantai Perawan, Pantai Kresek dan Pantai LIPI, tiga destinasi yang jangan sampai kamu lewatkan jika berkunjung ke Pulau ini.

Tiba jam makan siang kami kembali ke penginapan dan beristirahat sejenak sembari menunggu waktunya snorkeling (ini dia yang sudah aku tunggu – tunggu). Dengan menggunakan kapal kecil yang cukup menampung  25 – 30 orang  kami meninggalkan dermaga ke lokasi snorkeling kira – kira 15 menit lamanya. Puas cebur – cebur di lokasi pertama, si guide mengusulkan untuk snorkeling di Pulau Tikus namun, karena airnya sedang surut maka diputuskan ke Pulau Burung saja. Di pulau Burung ini lebih banyak ditemukan Bulu Babinya sehingga harus berhati – hati. Waktu saya tanyakan “Bagaimana rasanya jika terkena bulu babi mas?” Si mas hanya jawab “Pokoknya jangan sampai kena deh mba, rasanya sampai nangis”. Dan saat salah seorang teman terkena bulu babi, ia tidak berhenti – berhentinya meringis (Wanna try?)

By the way, ini kali pertama aku snorkeling apalagi di laut (biasanya juga nyelam di danau dan loncat – loncat dari kapal yang berlabuh, ini jujur loh!). Jadi butuh sedikit waktu untuk belajar menggunakan sepatu katak dan cara bernafas dengan menggunakan selang. Awalnya masih mau nelan air laut yang buat orang kapok, kadang juga airnya masuk ke hidung, tapi setelah mengikuti instruksi guide yang katanya harus rileks sedikitnya aku mulai mahir snorkeling. Ditambah aku juga menghitung tiap tarikan nafas dan saat mengeluarkannya dari mulut (jadi tidak kemasukan air dari hidung lagi).

Masih belum mahir nih :D
Masih belum mahir nih 😀
Mulai bisa menyeimbangkan tubuh
Mulai bisa menyeimbangkan tubuh
Udah pro ya? :D
Udah pro ya? 😀
Ternyata menyelam di laut lebih susah tanpa menggunakan alat snorkeling
Ternyata menyelam di laut lebih susah tanpa menggunakan alat snorkeling

Momen yang paling menyenangkan di Pulau Pari adalah saat snorkeling, roti kusebar dan ikan – ikan kecil mulai mengerubungiku. Aku heran kenapa ikan – ikan disana tidak takut pada manusia. Jadi ingat Lilo di Lilo and Stich yang memberi makan ikan – ikan di laut. I felt like Lilo. Sayangnya tiba – tiba terdengar teriakan instruktur untuk naik ke kapal karena serangan ubur – ubur, hehe dan tak lama setelah itu beberapa teman mulai garuk – garuk.

Amat disayangkan memang, snorkeling dengan waktu yang terbilang singkat (3 jam). Padahal hanya di hari itu saja snorkeling dilakukan. Berikutnya aku dan beberapa teman langsung menuju penginapan untuk membersihkan diri dan bersepeda ke pantai Perawan. Dari beberapa blog yang aku baca sebelumnya, Pantai Perawan memiliki sun set yang bagus dan tak boleh terlewatkan. Benar saja, saat tiba disana tepat disaat detik – detik terbenamnya matahari dan itu begitu indah.

Sun setnya sedikit ketutupan awan
Sun setnya sedikit ketutupan awan

Kejutan – kejutan lainnya tidak berhenti sampai disitu saja, karena malamnya masih di Pantai Perawan, sambil menunggu seafood bakar disajikan, kami tidur di pinggir pantai, di atas pasir halus melihat bintang – bintang dilangit. Perasaanku meluap – luap memaksaku untuk bersenandung :D. Haah.. Langit begitu bersih dan untuk kesekian kalinya aku  diingatkan bahwa semesta begitu luas dimana kita tidak  tinggal sendiri  (Maaf, soalnya aku percaya bahwa masih ada makhluk lain di luar sana yang mungkin saja sedang  melihat bintang sama seperti yang kami lakukan saat itu).

Guide yang memandu kami selama di Pulau Pari, Mas Barry alias Sobari, mengingatkan kami kembali untuk tidak melewatkan sun rise esok pagi di Pantai Perawan. Walau keesokan harinya mata masih berat, pukul setengah enam kami bersepeda menuju Pantai Perawan. Air laut sudah surut sehingga lebih mudah untuk menyeberang ke ‘pulau kecil’ di depan Pantai Perawan. Tidak kalah indahnya dengan Sunset, Sunrise juga menambah kekagumanku pada Pulau Pari ini. Tak lupa aku mengucapkan beberapa harapan di detik – detik kemunculan matahari (menurut mitosnya dapat terkabul).

Sunrise di Pulau Pari
Sunrise di Pulau Pari
Indah bukan?
Indah bukan?
Padi - pagi sudah bermain pasir di Pantai Perawan :)
Padi – pagi sudah bermain pasir di Pantai Perawan 🙂

Pukul 08.00 setelah sarapan, Pantai Kresek dan Pantai LIPI sudah menanti. Mengapa dikatakan Pantai Kresek? Karena menurut cerita Mas Barry, dulu pantai ini dipenuhi semak, jadi jika melewatinya akan berbunyi kresek kresek gitu. Nah, sedangkan Pantai LIPI merupakan tempat konservasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Di pantai Kresek, aku melihat ada beberapa lubang di pasir pantainya. Ternyata itu adalah bekas sarang penyu sisik (http://travel.detik.com/read/2014/02/01/111300/2373552/1025/yuk-ikut-melepasliarkan-penyu-di-pulau-pari) wow…

Nah, jika kamu ingin melihat bintang laut, kamu dapat menemukannya di Pantai LIPI. Tapi ingat, jangan sampai membawa pulang si Patrick kecil ini atau sampai merusak habitatnya. We have to keep it for our next generation, rite?

Berkunjung ke habitat Patrick
Berkunjung ke habitat Patrick
Melepas kembali si Patrick dan keluarganya :D
Melepas kembali si Patrick dan keluarganya 😀

Berbeda dengan teman satu rombongan kami lainnya yang lebih memilih untuk menikmati permainan air seperti Banana boat dan satu lagi yang aku kurang tahu apa namanya. Untuk Banana Boat perorangnya akan dikenakan tambahan biaya sebesar Rp.35.000, sedangkan permainan yang satunya lagi (sejenis banana boat tapi bentuknya persegi dan hanya bisa dinaiki 4 orang saja) perorangnya hanya Rp.30.000. Tergantung kamu mau pilih permainan mana jika berkunjung ke Pulau Pari.

Seru kan?
Seru kan?

Pukul 12 kami meninggalkan Pulau Pari. Rasanya waktu begitu cepat berlalu. Untuk kali ini perjalanannya benar – benar menyenangkan. Semoga nanti diberikan kesempatan lagi untuk snorkeling disini atau ber-scuba diving (who knows? 😀)

 

 

Diposkan pada Travel

Jungle Land, Sentul City, Bogor

Long weekend kemarin (31/01/14) kami menghabiskan waktu seharian di Jungle Land, Sentul City. Asyik? Asyik… Seru? Lumayan… Menantang? Banget….hehehe. Yang mengasyikkannya kami kembali mengunjungi tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. Menantang karena ada 6 wahana permainan yang membuat jantungku hampir copot. Walaupun amat disayangkan dari 31 wahana permainan, hanya beberapa saja yang benar – benar menantang. Selebihnya permainan yang didominasi untuk  anak – anak. Wajar sih namanya juga Family Adventure Theme Park.

Awalnya tidak satu pun diantara kami berempat yang tahu atau punya sedikit informasi dari lokasi Jungle Land ini. Tahunya hanya Sentul, that’s it. Janji jumpa pukul 06.00 dan berangkat pada pukul 07.00 ternyata molor. Jadinya berangkat pukul 08.30 dari Cawang (hadeuh..). Ini karena kami harus mencari tahu informasi akses ke Jungle Land sebelum berangkat. Setelah melalui perdebatan yang cukup serius, akhirnya diputuskan kami menggunakan APTB (dengan tarif Rp.14.000/orang.) jurusan Bogor, Ciawi. Untung saja lokasinya tidak terlalu sulit ditemukan (walau kami sempat nyasar sampai ke Bubulak, Bogor) 😀

Karena salah informasi, kami turun di Bubulak, Bogor padahal seharusnya saat naik APTB (melalui tol Jagorawi) kami turun di Tol Sentul City, Bellanova yang kurang lebih memakan waktu 40 menit. Jadilah kami nanya sana – sini dan akhirnya dari Bubulak, Bogor kami menggunakan angkutan T-05 warna hijau (Rp.8.000/orng) arah Bellanova. Tiba di Bellanova, salah satu teman saya nanya ke seorang cewe angkutan apa yang menuju Jungle Land. Si cewe jawab, “Karena jauh mba, mending naik ojek saja atau taxi”. Berhubung kami berempat, kami pikir supaya lebih murah dan nyaman lebih baik naik taxi. Eh, ternyata naik taxi disini tidak menggunakan argo tapi dihitung sesuai dengan banyaknya orang. Saat ditanya, tarif untuk 4 orang Rp.90.000 padahal kalau dengan ojek Rp.25.000/2 orang. Akhirnya kami naik ojek selama 15 menit ke lokasi. Dan amat disayangkan setelah kami tiba di Jungle Land, security disana memberitahukan kami bahwa ada bus settle gratis 1kali sejam yang akan menjemput pengunjung di Bellanova. Ooooooo……

Satu hal yang ingin saya sampaikan kepada teman – teman yang akan bepergian, cari tahulah sebelumnya informasi – informasi yang berkaitan dengan destinasi perjalanan anda. Jangan sampai seperti kami, yah hitung – hitung belajar dari pengalamanlah 😀

Yap, itulah panjang lebarnya perjalanan menuju Jungle Land. Tapi tidak sebanding dengan udara segar dan indahnya pemandangan Sentul City yang kamu dapat. Terutama saat mengendarai motor 😀

Pertama Nyampe nih..
Pertama Nyampe nih..
Jungle Land dari depan
Jungle Land dari depan

Layaknya taman bermain, Jungle Land di desain dan dihiasi semenarik mungkin. Saat pertama tibadi Down Town, mataku langsung tertuju pada seekor kadal raksasa yang merayap di dinding, jerapah raksasa dengan sulur lidahnya, bahtera yang mengingatkanku akan kisah Nabi Nuh dan juga monyet lucu yang nangkring di atas Starbucks.

Giant Gireffe
Giant Gireffe
Besarnya...
Besarnya…
Giant Lizard on the Wall
Giant Lizard on the Wall
Cute Monkey
Cute Monkey

Sebelum masuk ke wahana permainan, kita harus membeli tiket masuk di Down Town. Tarif saat Weekend Rp.150.000 (karena di hari Jumat waktu kami berkunjung adalah  hari libur besar, maka masuk tarif Long weekend) sedangkan  tarif week day Rp.100.000. Jika tidak ingin mengantri terlalu lama ada juga VIP access dengan menambah biaya sebesar Rp.75.000.

Masuk wahana, kami memilih Harvest Time sebagai pemanasan, kalau di Dufan itu seperti Halilintar. Lumayanlah untuk permulaan. Lalu lanjut ke pontang – panting dan Sarang Burung Berang (sama seperti Hysteria). Next, supaya tidak terlalu tegang kami naik Kolecer. Tahu tidak kalau Kolecer ini wahana kincir angin tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 45 meter. Dari sini kami bisa melihat scenery Sentul dan Gunung Pancar. Sayang, saat kami naik cuaca sedang mendung dan Gunung Pancar tidak jelas terlihat.

Pemandangan dari atas Kolecer
Pemandangan dari atas Kolecer

Top of Kolecer

Wahana Sarang Burung Berang
Wahana Sarang Burung Berang

Lanjut lagi ke wahana yang lebih menegangkan yaitu Hihibeuran Zee Force. Ampun dah, permainan ini membuatku tegang dan mual setengah mati (macam pernah mati ajah, hehehe). Dibilang kapok sih enggak, tapi mau naik lagi sepertinya saya harus mikir lima kali dulu. Saya dan teman disebelah teriak – teriak kayak orang kesurupan. Gak peduli dan gak mikirin lagi orang – orang dibawah yang sedang ngetawain kami. Walau malu juga setelah turunnya dilihatin orang – orang dengan wajah pucat pasi dan jalan sempoyongan. Satu orang temanku langsung menuju toilet (dia muntah broo…) dan istirahat di kursi taman.

Dua orang sudah gugur tinggal saya dan satu orang teman. Mumpung semangat – semangatnya, saya dan satu orang lagi teman mencoba wahana Disco. Ini wahana gak kalah serunya.

DSCF0573
Hihibeuran Zee Force
Wahana Disco
Wahana Disco

Puas dengan wahana permainan yang menantang, untuk istirahat sejenak kami duduk di Ampitheather menyaksikan pertunjukan Barongsai. Karena memang sedang libur Imlek, maka Jungle Land juga turut merayakan event besar ini. Diliput oleh salah satu TV swasta juga loh…

DSCF0592

Try to get the Flower
Try to get the Flower

Dan yang terakhir, kami masuk ke rumah hantu (tapi tidak menakutkan sama sekali) dan Rumah Dino.

Get your gun here :D
Get your gun here 😀
Here's the Dino
Here’s the Dino

20140131_155640

Walau Taman Bermain identik dengan permainan anak – anak, tapi ada juga permainan yang  bisa menguji adrenalinmu. Yap, kalau dipikir – pikir tidak ada ruginya juga kami berkunjung ke Jungle Land. Selain antriannya tidak terlalu panjang (karena tidak terlalu banyak pendatang) juga karena wahana permainannya yang cukup menantang. Intinya sih, “Yang Penting Having Fun bareng” 🙂

Berempat
Berempat
Jump.. jump
Jump.. jump